January 31, 2004

TG’s reply and it’s going to be long..

Filed under: General, World Out There

Great thanks for the massive comments on my previous entry, peeps. I’m so honored to have those letters in my desk. *sok penulis terkenal*

Btw, kalo ce elo itemnya amit2 kayak negro gitu, elo masih suka? :D lha elo fansnya sama ce putih kayak di iklan sony ericsson gitoohh. brarti anda salah satu pendukung ‘white skin’. bukan begitu pak profesor? –meea

I like your first question, gal. ^^ Ya, gue ga keberatan punya ce item abis ASALKAN dia emang negro beneran, bukannya orang Asia yang gosong kebanyakan main layangan or main congklak siang bolong di tengah lapangan bola. In fact, gue admire kulit hitam Afro or negro or whatever you name it. Gue pribadi pengen terlahir dengan kulit negro, hitam dan pekat, tanpa gula. XD Gue sering cerita tentang itu sih ama Kriz, tapi sampe skarang dia pun sulit ngerti, so kayaknya percuma juga gue jelasin panjang lebar lewat tulisan begini tentang kenapa gue admire black people.

Tentang pertanyaan kedua, cewe model Ericsson itu ngga kulit putih. She might be American, but she’s not white. She’s brown, yellow, and red, but definitely not pure white. Dan kalaupun ternyata gue salah, dia memang berkulit white, apakah gue ga boleh suka dia hanya karena gue membenci konsep ‘white is beauty’? Ridiculous. Gue suka cewek berkulit putih. Gue suka ngeliat kulit yang penuh cahaya. Gue suka punya temen yang kulitnya mulus. Tapi gue ga suka pola pikir, ”White is beauty.” (more…)

January 29, 2004

Skin color and advertising

Filed under: World Out There

Dari sekian banyak model iklan HP yang pernah gue liat, yang rasanya paling nyolok mata dan hati *ck ck ck, bahasanya!* gue tuh yang ada di samping ini. Cakeeeeep pisan! (^-^)b Engga cakep banget sih, but that’s exactly my point. Me ga suka cewe yang terlalu cantik, langsing, mulus.. Okay, maybe yang terakhir bisa diilangin, but at least warna kulit ga terlalu gue peduliin. Yups. Skin color is not a problem for me. But that’s not how the world thinks, at least in the field of advertising.

White is beauty, so claimed by every company like Haseline, Vaseline, Ponds, etc. Why is it so? Gue ga tau deh, tapi yang jelas itu adalah sebuah penjajahan mental! Gara-gara konsep itu, ada ratusan juta -kalau bukan semua- cewek di dunia ini yang ngerasa kurang pede or cantik karena kulitnya yang tidak seputih teman-temannya. Ga peduli udah seputih apapun, pasti pengen diputihin lagi deh. Nanti keputihan lho.. ooops, itu mah lain lagi yach? f(~ ~) duh maap deh.. (more…)

January 27, 2004

Bla bla bla on telephone

Filed under: General, World Out There

Dasar edan! Cheryl bilang tagihan teleponnya bulan lalu tembus ke angka 2 juta! Mampus dah. Kalo beli bra bisa brapa banyak tuh?! *lho, kok bra sih?* XD Seumur-umur tagihan telepon rumah gue paling maksimal 900 ribu, itupun cuman terjadi sekali dalam sejarah (mudah-mudahan), gara-gara telkomnet.. ^^ Abis gimana lagi, kalo warnet gue males banget soalnya jauh, plus warnet langganan udah tutup bangkrut.

Tapi kalo ngomongin soal tagihan telepon, gue ngeliat nature dari telepon itu udah bergeser cukup jauh. Dari sekedar alat seperti waktu ia diciptakan sama Graham Bell, berubah jadi tempat. Mmm bahasa kerennya, dari device menjadi place. Telepon, baik seluler or reguler, sekarang berfungsi seperti kafe, restoran, tempat bilyar, atau tempat-tempat hang out lainnya.

Maksudnya gimana sih? Sederhana aja. Misalnya blakangan ini si tyup, cheryl, and vv nelpon gue cuman untuk ngobrol. Gue ga tau deh gimana waktu jaman si Graham Bell, tapi kayaknya orang dulu saling bertelepon bukan untuk ngobrol or cekikikan ga jelas. Setiap dering telepon dulu mungkin cuma berkisar antara pemberitahuan atau peringatan, yang jelas biasanya cuman beberapa menit. Coba liat sekarang ini, terutama buat ABG, isinya jauh lebih panjang (tapi bukan berarti lebih berbobot) dari announcement/warning, malah kadang bisa sampe lewat dari sejam.

Ga ada bedanya ama Starbucks, MacDonald, Pizza Hut, or tempat tongkrongan lainnya dimana kita bayar sejumlah uang sebagai ‘biaya sosialisasi’. Telepon juga begitu. Malah sebenarnya jauh lebih mahal nongkrong di telepon, karena selain ga dapet minum/makan (dibanding ngobrol di kafe), biasanya rate nya tergantung jam berapa kita nelpon.

Gue pikir hal ini yang bikin kita, anak muda yang besar di tahun 90an, suka konflik ama ortu. Biasanya mereka nyerocos, “Ngapain sih nelpon lama-lama?” or “Jangan ngobrol!” or “Emang ga pegel kupingnya?” etc karena mereka, yang rata-rata lahir di tahun 70an, masih nganggep telepon sebagai sekedar device. Mereka ga bisa nangkep dimana enaknya ngobrol lewat telepon. Di jaman mereka hal tersebut adalah hal yang absurd, mungkin mirip seperti mereka juga sulit ngerti gimana orang bisa asyik becanda di ruang clubbing dengan musik house nya yang ribut.

Mereka masih aja berpikiran ‘ngobrol lewat telepon’, sementara kita udah pada pola pikir ‘ngobrol di telepon’. Itu perbedaan yang besar banget. Karena pemikiran mereka masih ‘lewat telepon’, then emang kagak enak diskusi ama orang yang nun jauh di sana and tidak nyata kehadirannya. Tapi yang ada dalam benak anak muda adalah ‘di telepon’, jadi ketika ujung telepon di ujung sana diangkat, maka kehadiran orang tersebut sudah dianggap nyata layaknya pertemuan fisik di sebuah restoran.

Selain itu, beda dengan jaman ortu dulu, anak jaman sekarang begitu lahir udah akrab ama telepon. Bayi pun udah dikasih mainan HP gocengan di pinggir jalan. Gue punya keponakan umur 6 tahun yang suka mencet-mencet HP mainannya dan ngobrol ama temen imajinasinya! Nah tuh, ngobrol.. padahal ga ada yang ngajarin. Dari kecil kita udah terbiasa bergaul dengan telepon, jadi engga heran kalo kita kemudian tumbuh nganggep telepon lebih daripada sekedar alat penghubung.

Seandainya biaya tagihan telepon ngelonjak gila-gilaan, menurut gue kurang tepat ortu ngomelin anaknya dengan argumen “Telepon bukan buat cekikikan…” Kagak nyambung! Gue ga tau gimana seharusnya argumen ortu ngendaliin perilaku ngobrol anaknya, tapi yang jelas ga bisa dengan ngotot ke konsep device itu. Pasti ada cara argumen lainnya. Entah apa itu. Tapi pasti ada.

Anyway, kok gue jadi sok analisis gini ya? LOL And where’s my english? XD

*Prof. True-Gossiper adalah lulusan cumlaude dengan gelar M.A. di bidang Phone Philosophy dari International School Of Public Nonsense. Beliau adalah pengarang buku Phonetrix Revolution yang menjadi bestseller di seluruh dunia. Berdiam di pedalaman Australia beserta kekasih dan kedua anaknya, Angelica & Guy, beliau sedang berkonsentrasi penuh menyelesaikan buku keduanya, Lord Of The Phone, yang akan diterbitkan pertengahan 2004.*

January 24, 2004

The Samurai in me #2

Filed under: General

I’m True-Gossiper. A warrior. As lonely as it can be. I have this flood of thoughts blending and confusing me every minute, even as I write these things out, just like Nathan’s nightmare. There are things that I did in the past, that I’ve become so ashamed about it that it’s like eating me alive now. Things that most people embrace as wonderful and prideful achievements, but I don’t share similar regard anymore.

Each day, as I discover new lands in my personal journey, I’m more aware of myself and things around me, while at the same time, troubled in split decision of denying and compromising. Just as Katsumoto asks, “You believe a man can change his destiny?”, I do answers in Nathan’s voice, “No. I think a man can only do what he can, until his destiny is revealed. But I do know one thing, it’s gonna be a hell of a day.”

Sometimes, I become the worst enemy of my very own soul, my deepest dreams, and also my dearest friends. I have to trade those things to follow the bushido in me. While some people understand it, some others don’t, those who I kept whispering hundreds of ‘gomen nasai’ in my still lips. There’s no blood or death, no hidden anger or exit wounds, but the pain exists. The pain of insecurity, not knowing exactly where this path is leading me. Yes, I walk stronger each day, but it doesn’t contribute any less certainty that the whole expenses would be done for greater good.

The way of the sword. The samurai. I didn’t choose to embrace the path, instead the path who have found me in the first place. I’m bound to its beauty and mystery, therefore I’ll die to honor it. May God be with me.

There is so much here that I will never understand. I have never been a church-going man. Indeed, what I have seen on the field of battle has led me to question God’s purpose. But there is indeed something spiritual in this place. And though it may forever be obscure to me, I cannot but be aware of its power.” -Nathan Algrein, The Last Samurai

The Samurai in me

Filed under: World Out There

Man, The Last Samurai really struck me. Filmnya sederhana aja. Jagoan amrik yang sudah pensiun dari militer, mabok-mabokan, diberi tugas baru, nemuin something new to learn, jadi jagoan lagi, saves the day and marries the pretty girl. Tipikal Holywood lah. Tapi sinematografi semangat bushido nya yang bikin gue merinding. Kalo mau dibandingin, gue ngerasa intense emotion yang sama kayak waktu nonton The Patriot dan Braveheart nya si Mel Gibson. Kebetulan ketiga film itu berwarna kolosal gitu. Mirip ama Gladiator Russel Crowe juga, tapi Gladiator masih terlalu glamor, jadi kurang terasa live dibandingin TLS.

Bagi gue, film yang bagus adalah film bisa bikin penonton jadi relate ama tokoh-tokohnya, baik itu sang protagonis or antagonis. In this case, gue ngerasa banget ada di dalem kostum si Nathan Algren (Tom Cruise). Brengsek. Ada beberapa scene (berikut dialognya) yang bikin gue merinding banget. Jelas gue bukan Samurai, besi tajam panjang yang pernah gue pegang tuh cuman sebatas cutter doang! XD Gue juga ga pernah berantem di perang manapun, digebukin dua puluh orang sih pernah. ^^ Gue juga ga jago bela diri apapun, cuman taekwondo ampe sabuk hijau dan itupun udah lupa semuanya.. But there is something, errr no.. a lot of things yang bikin gue ngerasa the film both speaks to me and about me. Masih mau nulis lagi. Tapi nanti aja deh.

January 21, 2004

let me be the very first to say..

Filed under: General


GONG XI FA CAI, EVERYONE…

January 20, 2004

Just don’t!

Filed under: General

Another silly rant of unimportant issues. This time triggered by tyup. ^^

[indonesian mode ON]

Basi deh. Ga tau kenapa, tapi gue ngerasa merinding banget kalo ngeliat kata-kata closure greeting waktu ngobrol lewat SMS. Contoh nih.

Britney Spears: Get real man! She’ll only want to go out with guys with convertible!
True-Gossiper: You think so? I mean, I won’t stand a chance at all?
Britney Spears: Definitely, but it’s not that you’re bad or something. Money, that’s all she’s aftering. Listen man, mom’s yelling downstairs, gotta go now. GBU.

Fred Durst: Just switch the battery position. If the green light’s still on, switch it again.
True-Gossiper: I just did that.
Fred Durst: Re-plug the video cable.. it must have conflicted the current.
True-Gossiper: Okay.. .. .. Hey, it worked! Thanks, man!
Fred Durst: Anytime. Have a nice day..

Contoh di atas emang lebih bernada telepon lisan daripada textual SMS, tapi di dialog real time seperti itu pun gue ngerasa ngga sreg kalo denger ada closure gitu, apalagi kalo lagi ngobrol pake SMS?! Apa cuman gue doang ya yang ngerasa gini?

Maksud gue, kalo emang udah selesei topik pembicaraan, ya udah, abis aja. Jangan dikasih frase penutup gitu. Yah mungkin gue ga bakalan nyolot banget seandainya denger hal begituan dari partner SMS yang lebih tua usianya –yang rata-rata bergaya sopan-, tapi kan temen gue orang muda semua!?! Ini bukan soal sopan atau ramah dsb, tapi soal kok kayaknya ga asyik banget sih ngeliat anak muda ngasih closures yang begituan.

Jadi PLEASE jangan pake kata-kata sejenis itu ya, termasuk ‘Bye’, kalo lagi SMS gue..

[indonesian mode OFF]

Meeting tyup

Filed under: General

It was like a miracle. Finally ty_up showed up after giving rain checks almost everytime. I do impressed, man, I do. You’re amazing. At first I thought you would be as ackward as you shrieked about it on the phone the other nite, “What on earth will we be doing till 7 in the evening, bro?!” But it just turned out fine, didn’t it? So much for your excessive fear… ^^ We discussed about music, 2kGeneration, postmodernism, love, sex… errr, omit that last one, he’s too young for it. LOL A great little man.

Oppps, did I say ‘little’? Aaaah, yes. He’s not like the big grumpy fellow I’d imagined before. Short, thin, and yellowish pale.. pretty much like Jacky Chan without the muscles and kungfu magic. XD



I am 20% evil.
Take the test