ting ting ting
bagai nyawa asap kelabu
turun mengawang
antara tipis batas trotoar yang kasar
beban mendesah
nafas meregang nyali
untuk menerima
sajak seroja Pencipta
yang tak berkesudahan
ting ting ting
setiap goresan berderet di sana
tepukan riang kebahagiaan
gema bergema namun
merobek gita di sini
rapuh suara
menantang kelu di hati
ting ting ting
berdenting
aku melayu
mengering
Questioning Qhristians
by Peter Valentino
Every now and then, saya mendengar komplain berikut ini dari rekan-rekan kristiani, “Kamu kebanyakan mikir,” “Trus mau nya gimana?” , ”Kasih solusi dong,” dan sebagainya ketika sedang mengajukan keberatan-keberatan tentang churchianity. Dan setiap kali ucapan yang serupa muncul, saya selalu merinding sendiri memikirkan bagaimana caranya menjawab, ”I dunno..” tanpa membuat mereka jadi tertawa terkekeh-kekeh, memandang rendah diskusi itu, dan mencibirnya sebagai kedegilan-yang-dipelihara.
Baru-baru ini saya membaca di buletin sebuah gereja lokal sebuah artikel berjudul Fighting False Belief. Harus saya akui, itu adalah tulisan yang bagus sekali. Ia berbicara tentang ”false belief yang mampu mengecoh kita, dan kita membiarkan itu terjadi,” dan penyebab-penyebabnya. Sebagai penutup, ia bahkan memberikan mutiara indah yang berbunyi, ”Kepercayaan semu atau palsu bukanlah kebenaran, dan sesungguhnya kita punya kekuatan untuk dapat mengubahnya.” Indah.
Namun menarik sekali bahwa ia tidak menuliskan bahwa sebelum dapat mengubah sesuatu, kita harus dapat mengekang kerah sesuatu itu, melemparnya ke ruang interogasi, dan duduk berjam-jam di sana mengajukan berondongan pertanyaan menyudutkan yang sebagian dapat dijawab memuaskan, sementara sebagian menganga lebar tanpa pernah menemukan jawabannya.
Pertanyaan adalah kekuatan, sesuatu yang tampaknya semakin memudar dari panggung gereja dan kerohanian kita. Bukan saja kita lebih menyenangi jawaban, kita juga sudah begitu terbiasa memakan pertanyaan-pertanyaan yang disuapkan, sehingga kita berpikir bahwa itu adalah pertanyaan-pertanyaan kita sendiri.
Seorang hamba Tuhan kemarin berbicara seperti ini, “Kita sering bertanya, ‘apakah penyembahan itu?’ ‘mengapa kita perlu menyembah Tuhan’ dan sebagainya,” dan semua jemaat mengangguk-angguk setuju. Saya tidak yakin semua jemaat yang mengangguk itu memang pernah berpikir seperti itu. Saya bahkan tidak yakin setengah dari mereka pernah terpikir akan hal itu.
Itu hanya pertanyaan yang diasumsikan, dan semua orang menerimanya seolah-olah hasil usaha sendiri. Apa akibatnya? Tidak terjadi apa-apa. Jika jemaat mendengar jawaban atas pertanyaan tersebut, maka itu hanya akan bertahan sebatas ingatan saja. Tidak ada sesuatupun yang bisa dihasilkan olehnya, karena jemaat tidak benar-benar sedang mencari hal tersebut.
Pertanyaan yang disuapkan bukanlah pertanyaan, melainkan sebuah kritisisme palsu. Kognisi cangkokan. Sedotan cantik warna-warni yang meliuk akrobatik untuk sekedar meminum segelas es teh manis.
Mengapa satu-satunya cara untuk bertanya adalah mengutip pertanyaan pilihan yang sudah diberikan oleh pemimpin rohani? Mengapa jemaat tidak dibiasakan untuk mengangkat tangan dengan pertanyaan sendiri? Apakah gereja sudah memusuhi sang Pertanyaan?
Inilah pertanyaan. Dari sebuah jawaban.
*******
Peter Valentino adalah seorang skeptik, peselancar spiritual, pengamat budaya, musisi, pembaca pikiran, dan penggemar Quickly Bubbletea. Begitu ekstensif dalam dunia cyber, banyak orang menganggapnya hanya mitos dalam dunia nyata. Ia juga co-founder dari Outcasts Community, rumah bagi ratusan petualang Kristus yang tersebar di berbagai penjuru dunia. Untuk bergabung, kunjungi www.the-outcasts.com.