Questioning Qhristians II
by Peter Valentino
Dahulu saya sempat tergila-gila dengan istilah ‘kontemporer’. Saya rajin membaca buku-buku rohani yang tampak berbobot dan memiliki cap Memang Bacaan Bermutu. Seperti kebanyakan orang-orang yang dijaring oleh kelompok karismatik, saya tenggelam dalam judul-judul modern atas kekristenan yang sebelumnya saya rasakan kuno dan tidak menyenangkan itu. Saya berpikir, “Orang-orang ini sangat asyik! Mereka tidak saja benar-benar mengalami Kristus, tapi juga mampu menceritakan pengalaman tersebut dengan menyenangkan.”
Saya berpikir semua cerita dan teori itu adalah katalis yang tepat untuk pertumbuhan rohani saya. Saya berpikir sudah lewat jamannya kegelapan dan ketidakmengertian, dan letusan pistol penanda mulainya periode pengungkapan yang berbinar-binar sudah berbunyi. Saya berpikir mereka memiliki jawaban. Dan kamu tahu apa yang terjadi? Saya benar.
Orang-orang tersebut memang diurapi untuk menggugah kehausan rohani yang sama sekali tidak kuno dalam diri saya dan banyak orang. Kita diimpartasikan batu-batu pondasi akhir jaman yang sangat fantastis. Belum pernah sebelumnya dalam sejarah kekristenan gereja diperlengkapi oleh berbagai profesor ministry yang sangat fasih membagikan kunci-kunci surgawi bagi jemaatnya.
Mungkin para bapa gereja kita sedang menggigit jari di Firdaus sana melihat kemajuan teknologi kekristenan kita saat ini.
Tapi siapa yang menyangka bahwa dibalik semua kemewahan teologis ini, kita masih sering kesepian, kedinginan, dan juga terjatuh? Kita mungkin akan menyangkalnya, tapi saya minta, cobalah jujur kepada diri Anda sendiri setidaknya beberapa menit ini. Sekalipun melalui khotbah minggu kita diberikan minyak terbaru dan terbaik, namun tetap ada sejumlah lentera kecil dalam hati kita yang belum menyala dengan baik. Mungkin saat dibagikan, kita dapat mengangguk-angguk dan berteriak Amin dengan lantang. Namun mengapa semangat tersebut tidak dapat menghangatkan untuk waktu yang lama?
Mengapa kita kerap terjatuh dari pondasi-pondasi kokoh yang telah kita terima dari pemimpin, pembina, gembala, penatua, rasul, nabi, dan segenap pekerja surgawi lainnya? Mengapa jubah spiritualitas yang mereka tiupkan dari atas mimbar tiba-tiba saja terasa terlalu longgar, atau terlalu sempit, atau bahkan tidak nyaman sama sekali ketika kita melangkah kepada hari Senin dan sepanjang minggu?
Mungkinkah kita selama ini sudah terseret ke dalam bazaar rohani, dimana jawaban dan solusi alkitabiah dijual dengan diskon besar-besaran dan kita secara sembarangan membelinya, mumpung murah?
Mungkinkah kita tidak pernah mempedulikan sebenarnya apakah yang kita perlu, yang penting berhasil mendapatkan semua hal yang ditawarkan sebanyak mungkin?
Mungkinkah kita berpikir bahwa jika mengoleksi semua jawaban dan kontemporisasi rohani dari pemimpin gereja, maka pasti keimanan kita akan bertumbuh?
Kita memiliki hutang besar pada diri kita sendiri.
Kita berhutang pertanyaan.
Banyak pertanyaan.
*******
Peter Valentino adalah seorang skeptik, peselancar spiritual, pengamat budaya, musisi, pembaca pikiran, dan penggemar Quickly Bubbletea. Begitu ekstensif dalam dunia cyber, banyak orang menganggapnya hanya mitos dalam dunia nyata. Ia juga co-founder dari Outcasts Community, rumah bagi ratusan petualang Kristus yang tersebar di berbagai penjuru dunia. Untuk bergabung, kunjungi www.the-outcasts.com.







