July 20, 2006

Mimpi tadi malam

Filed under: General, Personal

Gue lupa apa yang terjadi sebelumnya, pokoknya yang masih bisa keinget tuh gue lagi ada di sebuah barbeque night party. Lokasi bukan di Indo, cos panoramanya berasa lake side view lengkap dengan hills, dan itu semua terletak di backyard sebuah rumah gede ala mansion.

We were having a great party. Termasuk gue, kira-kira ada sepuluh orang, masing-masing berpasangan, ngobrol and main games. Kayaknya gue ngga tau siapa orang-orang lain itu.

Entah brapa lama kemudian, gue ngeliat ada gerakan cahaya di langit dan mendadak keinget kalo di pagi harinya gue baca di koran tentang sebuah hujan meteor yang akan melintas di langit malam hari.

In real life, gue belon pernah ngeliat meteor tuh kayak gimana, tapi yang jelas di mimpi itu keliatan keren banget! Ribuan serpihan cahaya-cahaya kecil melesat dari kiri ke kanan, tapi karena jarak jauh banget, semuanya keliatan bergerak pelan in slow motion. Absolutely stunning.

Gue langsung ngasih tau partner gue yang kemudian ngasih tau orang-orang lain. Kita semua brenti main and makan, ngeliatin fenomena alam yang jarang-jarang bisa keliatan dengan mata telanjang.

Setelah sekitar lima menit, tiba-tiba gue ngeliat gerakan obyek cahaya lainnya dari lapisan belakang hujan meteor itu. Jadi anggap aja hujan meteor itu punya sejumlah layer, mis. 1 - 5. Nah gerakan cahaya yang baru itu pertama kali muncul di layer 6, kemudian perlahan-lahan bergerak maju menembus ke depan, ke layer 5, 4, dst.

All this said, kayaknya cuman gue yang ngeliat cahaya itu, cos setelah lima menit awal, pasangan-pasangan lain udah kembali sibuk dengan mainan dan games mereka. Cuman gue yang penasaran ama obyek cahaya baru itu.

Awalnya waktu masih di layer paling belakang, gue cuman bisa ngeliat warna kilauan cahaya yang berbeda dibanding layer hujan meteor. Kalo gerakan meteoritnya berwarna putih agak kekuning-kuningan, obyek baru itu berwarna
biru dengan titik-titik merah. Kalo dibandingin, seolah-olah obyek itu nebeng dan nyamar kayak si hujan meteorit.

Tapi seiring waktu, obyek itu mulai bergeser ke layer depan dan bentuknya makin terlihat jelas. Kelebat cahaya biru yang gue lihat itu ternyata cuman ekor dari sang obyek misterius. Kalo elo ngegumpel tisu, disulut api dan dilempar dengan cepat, itu gambaran persis dari obyek tersebut. Bedanya si obyek tidak berwarna putih kayak tisu itu, tapi hitam kelam dengan bintik-bintil merah di permukaannya.

Ketika dia semakin menyerong muncul ke permukaan, menjadi layer nomor 1 dan hujan meteor itu sebagian tertutup olehnya, baru deh orang-orang pada merhatiin lagi. Bentuknya keren abis: gede, bulet, dan keliatan berat. Sekitar satu setengah kali besar bulan dilihat dari bumi.

Saat itu gue berpikir itu adalah komet, tapi gue juga inget pernah ngitung kalo di periode jenjang umur normal gue, tidak akan ada komet yang lewat. Jadi itu pasti meteorit yang besar. Asli keren banget bisa ngeliat pemandangan begitu.

We all berdecak kagum, udah kayak ngeliat pesta kembang api yang mewah karena di langit skarang jadi muncul banyak warna cahaya-cahaya baru. Kilatan putih kekuning-kuningan, cahaya ekor biru, bintik-bintik merah, dan api merah kekuning-kuningan.

Ah, wait!

Api merah!

Ya, itu warna yang baru muncul lagi. Kali ini berada di depan gumpalan bulat meteorit itu.

“This doesn’t look good…” pikir gue saat itu.

Span waktu antara bulatan itu ada di lapisan paling belakang sampai akhirnya berada di paling depan dan terlihat warna api merah kekuning-kuningan itu ngga sampe lima menit.

Dan gue juga baru nyadar kalo gumpalan itu terlihat semakin gede, terutama dibandingkan dengan hujan meteor di belakangnya yang justru mulai memudar dan semakin mengecil kilatan cahayanya.

Meteorit besar itu jelas sedang mengarah ke bumi.
Dan api merah itu pasti akibat gesekan dengan atmosfir bumi!
Which means dia sudah berada ratusan ribu kilometer di atas kita!

OGIMOD.

Mendadak gue ngerasa semuanya berjalan slow motion.

Dan suasana begitu hening.

Gue ngelirik ke arah pasangan-pasangan di sekitar gue, mereka semua terdiam dengan wajah yang kosong, seperti tidak tahu harus berharap apa.

Gue juga sempat ngeliat ke arah sejumlah daging ham yang udah melenting mateng di atas panggangan barbeque, tapi ketika gue menghirup nafas, gue ngga bisa nyium aroma daging sama sekali, kecuali hawa dingin yang terasa menusuk.

Ketika gue ngeliat lagi ke langit, ‘pesta kembang api’ itu terlihat semakin meriah. Gumpalan hitam kini mulai terlihat keperak-perakan dengan bintik merah di permukaannya, ekor biru dan sumbu merah kekuningan di bagian moncongnya.

Dia tidak langsung mengarah ke tempat gue, melainkan nyerong ke sebelah kanan, tapi udah ngga bisa dipungkiri dia sedang mulai masuk teritori angkasa bumi. Gerakan trayek proyektil sebentar terlihat bergeser-geser beberapa derajat, dan kadang berputar, seolah-olah terbentur banyak kendala di selimut atmosfir bumi,

Pemandangan mencekam. Gue juga ngga tau kudu berbuat apa. Yang jelas di kepala gue berulang-ulang muncul ini, “Geez, it’s really happening! Just like in the movies! But how? Why? This is supposed to happen only in movies! This is supposed to be science fiction!”

Trayek proyektil gumpalan itu berubah lagi sampai 180 derajat, hingga kini bergerak ke arah kiri. Gue langsung melihat ke arah kiri dan membayangkan negara apa yang ada di sana. “Jepang? Filipin? Korea? Jadi cewek-cewek kawaii Korea itu akan musnah duluan? Tidak mungkin!” otak gue berputar keras.

Trus yang kepikiran lagi, “Apakah efeknya bakalan sampe ke sini?” Gue ngga tau lokasi geografis gue dimana, tapi ketika ngeliat gumpalan itu sudah memasuki wilayah angkasa dan mulai terlihat skala besarnya, gue langsung ngerasa ngga peduli ada di mana, pasti bakalan kena efeknya.

Gue cuman meluk erat my partner there, just like what everybody was doing, sambil ngomong, “This is it. I hope we can survive.”

Satu menit kemudian, gue bisa ngeliat dengan mata kepala sendiri, gumpalan solid itu menghantam permukaan bumi ratusan ribu kilometer di sebelah kiri kami, tertutup oleh sebuah bukit kecil.

BUMMMMMMMMM!

Tanah tempat kita berdiri terasa berdentum keras, seolah meraung ketika sang batu alien mengoyak-ngoyak bumi. Cuman satu suara dentuman, tapi bikin udara jadi sesak. Gue masih bisa ngeliat ujung dari permukaan bundar meteorit itu yang sudah mendarat, berikut cahaya-cahaya api yang berpendaran di sekelilingnya.

Now I know this sounds crazy, tapi gue ngedenger sayup-sayup soundtrack Ave Maria menyelimuti sekitar seiring tekanan udara yang bergelung-gelung mengirim bom hentakan ke arah kami.

We were all hugging each other very tight, but I knew no amount of power hugging can do any good now.

Dalam hitungan detik, tekanan udara yang besar dan gelombang kejut di darat menyapu habis tanah yang kami pijak. Serpihan-serpihan tanah terlihat naik melayang di udara, bersamaan dengan daging ham dan pangganan seberat 5 kilo itu. Tubuh kami yang juga melambung seolah tanpa gravitasi, menari-nari tanpa daya ditangan dewi katastrophe.

Di milisecond terakhir sebelum gue kehilangan kesadaran, gue masih bisa ngeliat my partner, holding her tight sambil berbisik, “Mankind… will… survive…”

And it went dark.

Ave Maria , gratia plena
Maria, gratia plena , Maria, gratia plena
Ave, ave dominus , dominus tecum
Benedicta tu in mulieribus
Ventris tuae, Jesus
Ave Maria