Ini mimpi gue tadi malam.
Bermula dari gue yang lagi perlu dioperasi untuk mengeluarkan sesuatu dari tubuh gue, tapi lupa apaan. Yang gue inget itu sebenarnya cuman penyakit kecil yang ngga perlu sampe dioperasi karena ada alternatif penyembuhan lainnya, tapi di mimpi itu gue somehow dipaksa untuk ambil option operasi, padahal resikonya cukup besar.
Jadilah gue terbaring di meja operasi. In reality, selain emang takut, gue juga blon pernah ngejalanin operasi, tadi malem itu adalah pengalaman pertama gue. Cukup menegangkan, tapi untungnya itu bukan berasa di rumah sakit Indo, cos dokter-dokternya semua berbahasa Inggris.
What happened next was cool. Di detik gue passed out karena anesthesia, spirit gue melayang keluar dari badan, berdiri satu meter away dari para dokter, dengan khawatir nontonin mereka yang mulai cut open kedua sisi kanan-kiri perut gue.
Setelah lukanya itu terbuka lebar dan darah mengalir, salah satu dokter yang kayaknya pimpinan ngomong, “Okay kids, lets begin this class. Pay attention to every detail in this operation cos in the future you’re the one who’s going to perform this work.”
Jadi ternyata itu operasi sekaligus smacam demonstrasi untuk anak-anak kedokteran. Di mimpi itu gue kesel karena ngerasa ngga dikasih tau tentang hal itu sebelumnya. But nothing I could there karena gue lagi ngga sadar. Sang dokter ngelanjutin kerjaannya selama beberapa menit, sampe tiba-tiba something happened.
Terdengar bunyi “Biiiiiiiiiiiip….” yang panjang.
Something’s wrong, karena sharusnya bunyi itu pendek dan terputus-putus.
Dokter-dokter yang hadir di sana terkejut, mungkin karena seharusnya operasi seperti itu tidak pernah sampe menganggu fungsi jantung pasien. Dengan sikap profesional, dalam sepuluh detik mereka langsung sigap nyuntikin something ke dada gue, disusul dengan pasang alat kejut listrik itu.
Stand by… clear!
Sejenak muncul lompatan sinyal di monitor EKG, tapi itu cuman karena efek kejutan listrik. Sinyal langsung kembali datar.
Sekali lagi si dokter mencoba. Stand by… clear!
Badan gue terhentak, sinyal melompat, tapi kemudian kembali flatlines.
Mereka tidak menyerah, untuk ketiga kalinya, stand by… clear!
Bunyi “Biiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiip…” terus mendengin memenuhi ruangan OR.
Pada titik itu, tim dokter terlihat jauh lebih terkejut. Hal seperti ini tidak mungkin terjadi. Mereka tahu something’s terribly wrong, but not on the physics… more on the mental.
And they’re right.
Hanya berjarak satu meter dari tempat dokter-dokter itu yang penuh semangat dan dedikasi bekerja setengah mati untuk menghidupkan jantung gue, berdiri gue menatap mereka dengan pandangan kosong semenjak awal mesin EKG itu mengeluarkan denging panjangnya.
“I’m dead? So this is it? This is the way I’m leaving this world? By an expected error in operation room?” pertanyaan itu yang berputar-putar di otak gue, figuratively speaking cos my real brain was in that operation table.
Gue ngga tahu apa yang gue rasain saat itu. Ada sedikit kecewa, ada sedikit menyesal, ada sedikit lega juga karena akhirnya gue bisa lepas dari dunia yang keras itu. Tapi semua itu hanya sedikit-sedikit saja, hanya secuil dibanding satu rasa yang menggema di seluruh hati gue…
… yaitu hampa.
So this is how death feels like.
Sekalipun mata gue menangkap semua aksi dokter yang mulai mengoperasikan alat kejut listrik itu untuk pertama, kedua, dan ketiga kalinya, tapi pikiran gue terbang tinggi, berpikir memang mungkin ini sudah waktunya.
Gue memang kecewa harus pergi dengan cara ini, tapi gue juga merasa tidak perlu terlalu bersedih karena… karena mungkin tidak ada seorang pun yang akan kehilangan gue di bumi ini.
Bayangan tentang orang-orang yang dekat dengan gue melayang di depan mata gue dengan kasat mata. Orang-orang yang gue sayangin, mulai dari sekedar kenal, sahabat dekat gue, partner gue, keluarga gue… gue akan kehilangan mereka, gue akan merindukan mereka, tapi apakah mereka akan merindukan gue?
Seperti tidak.
Mungkin ini memang waktu yang tepat untuk pergi.
Mungkin ada baiknya gue pergi sekarang, daripada harus berlama-lama hidup dan terjebak dalam drama dunia.
Lagipula, mati itu adalah permulaan, bukan?
Pasti dunia di seberang sana jauh lebih menyenangkan, lebih sederhana, tidak melelahkan.
Kemudian, ketika gue semakin tenggelam dalam, terdengar sayup-sayup suara seseorang dibalik transparansi bayangan dunia seberang yang meliputi mata gue.
Gue coba untuk menegakkan kepala, memfokuskan pandangan pada arah suara tersebut di depan sana. Ternyata itu adalah suara salah seorang dokter muda yang tidak berhenti memijit menekan dada gue sambil komat-kamit bersuara.
“Hey asshole, izzat all ya got? So yer just gonna give up and steal yer way to the lala land? Oh wake up ya sonofabitch, it’s not yer time, ya dig? It’s NOT yer fuckin time!”
Saat mendengar itu, sekalipun sang dokter sudah tidak lagi memakai alat kejut listrik, tapi gue, the spirit me yang standing 1 meter away from my body, merasakan sebuah hentakan yang aneh.
Berbarengan dengan itu, kepala gue, figuratively, terasa lebih ringan dan clear. Suddenly I want to be alive again, gue tidak ingin meninggalkan bumi. Sebuah bayangan yang lain muncul di depan mata gue. Bukan bayangan dunia seberang, tapi tentang dunia ini, tentang semua sahabat gue yang tenggelam dengan rasa duka mereka ketika berdiri dalam upacara pemakaman gue.
“No, guys, I’m not going to leave you. I’m going back. I’m going back. I’m going back…” gue berbisik semua itu dengan spontan begitu saja. Gue seperti memberontak, memeluk diri sendiri dengan kedua belah tangan lalu menghentak-hentakkan badan kesana kemari. Mulai dari bisikan pelan itu, hingga teriakan yang lantang.
“I want to live! I WANT TO LIVE!”
Detik itu juga gue mendengar bunyi denging maut dari mesin itu tersedak putus.
Kemudian berbunyi. Putus lagi. Berbunyi. Dan putus lagi. Begitu seterusnya.
I did it.
I’m back.
Gue ngeliat semua tim dokter yang hadir di sana mengeluarkan napas lega. Gue juga bisa melihat ke arah kaca ruangan sebelah dimana para mahasiswa kedokteran itu bertepuk tangan dan saling berpelukan. That moment gue benar-benar yakin I’m back alive again.
Setelah melakukan sejumlah prosedur untuk memastikan tidak ada kesalahan lagi, mereka kembali melanjutkan operasi tersebut. Gue masih berdiri satu meter dari mereka, tapi tidak dengan kekhawatiran seperti sebelumnya. Kali ini dengan senyum dan keyakinan that everything’s gonna be alright.
Maybe not as alright as I wanted it to be. There’s still going to be wars and famine. Dan masih banyak hal mengerikan lainnya yang akan terjadi. But at least I’m alive. And maybe I can do something about it. That’s alright enough for me.
Operasi berjalan lancar selama tiga puluh menit. Ketika efek obat bius itu hilang, the spirit me juga tertarik kembali ke dalam badan gue di atas operation table.
Ketika kelopak mata gue terbuka perlahan, gue langsung melihat wajah dokter yang tadi terus memijit, menekan, tidak mau melepaskan gue.
“Hey, told ya isn’t yer time…” katanya sambil senyum.
“Maybe it was,” jawab gue sambil terbata-bata, masih pusing karena efek bius. “But your screaming sure scares the hell out of my reaper, doc…”
The end.








Hey, apa kabar? Long time no see. Happy belated new year too by the way…
Ah! Mimpi meninggalkan dunia ini ya? Gue juga pernah, sekitar seminggu yang lalu. Kalo mimpi begituan apakah ada artinya ya? Di mimpi itu gue masih berusaha untuk melakukan kegiatan sehari-hari seperti sekolah, ngikut temen-temen nongkrong di kampus, though I’m just a spirit and nobody could see me. But I do believe they could still feel my presence so I kept hanging unto them. But isn’t that scary though? Kalo diliat dari pandangan orang yang masih idup, brarti gue hantu gentayangan toh? In any case, I was relieved when I woke up from that dream. Kalo gitu, apa mimpi itu berarti gue masih punya semangat besar untuk hidup???
Mimpi-mimpi itu emang kadang misterius yah…
Comment by Pei^-^ — January 18, 2007 @ 7:44 am
norak!
someday!!! gw juga akan mimpi!!
*gak pernah mimpi
FUh.
Comment by Funawan — January 19, 2007 @ 4:39 am