Saya sangat menyukai storytelling. Saya senang merasa santai, membawa orang terhanyut ke dalam apa yang ingin saya sampaikan, melepaskan pilihan apakah mereka ingin terhisap masuk ke dalam pusaran pesan yang disampaikan, atau sekedar berselancar ringan di atas riak ombak cerita yang berbuih-buih.
Entah mengapa jika berbicara tentang storytelling, saya langsung terbayang dengan terutama lautan. Padahal sebenarnya saya takut dengan tebaran air yang luas karena tidak tahu caranya berenang dan dibayang-bayangi imajinasi tenggelam masuk ke kedalaman air dimana saya hanya bisa sendirian, sunyi, dan tidak mendengarkan apa-apa selain cahaya sinar yang terbias menembus permukaan air, masuk menerangi pupil saya yang terasa agak sensitif.
Bulatan matahari jadi terlihat jauh sangat besar bila Anda melihatnya dari dalam air di tingkat kedalaman tertentu. Semakin dalam, semakin jauh, semakin membesar. Seolah-olah Anda memakai lup yang didorong menjauh-mendekat dari lensa mata Anda sampai akhirnya bisa mendapatkan satu titik fokus yang tepat. Satu titik penglihatan membuat Anda merasa nyaman memperhatikan apa yang Anda perlu perhatikan, baik ketika memakai lup untuk membaca sesuatu yang kecil tersembunyi atau menggunakan ketenggelaman Anda di dalam air untuk mengamati indahnya bulatan matahari di atas sana. (more…)
Gue dulu suka nulis cerpen, tapi untuk konsumsi pribadi dan temen-temen deket sih. Dari segudang, ada beberapa judul yang masih bisa gue inget: Permainan Ninja, Sang Penakluk, Jump!, dan Liveguard Momento. Itu empat cerita yang paling banyak dapet respon dari temen-temen, selain juga paling panjang dibanding cerita yang lainnya.
Permainan Ninja dan Sang Penakluk ‘terbit’ waktu di SMP, dua buah cerpentadipanburus (cerpen pendek tapi jadi panjang dan bersambung terus, hahaha!) yang gue update harian di tengah-tengah kelas dalam buku tulis Sinar Dunia. Jadi tiap hari gue berusaha buat at least dua tiga halaman baru, dan setelah jadi baru tuh buku diputer keliling kelas, dibaca ama temen-temen yang berminat.
Permainan Ninja kalo engga salah sih emang my first effort in nulis cerita gitu, tentang empat sahabat karib SMP yang ketemu lagi setelah mereka dewasa karena salah satu dari pacar mereka dibunuh oleh triad Hongkong. Jadi berempat, masing-masing dengan keahlian martial art yang berbeda, saling ngebantu untuk balas dendam gitu. Di sepanjang perjalanan, semua ketemu ama pacar baru yang menambah kekuatan tim mereka. Setelah lama, akhirnya terbongkar kalo triad Hongkong itu cuman kedok doang, sebenarnya yang ngebunuh adalah seorang sensei ninjustu, yang tak lain adalah guru gue sendiri! (more…)
Ceritanya tentang seorang anak yang dikeluarin dari delapan (or sembilan, lupa) sekolah sebelumnya karena menggunakan kekuatannya di sekolah. Skarang dia masuk di sekolah baru, berusaha keras untuk ngga memakai kekuatan itu, but ternyata di sana ada sejumlah kasus yang ngebuat dia terpaksa kudu pakai kekuatan itu dan terlibat dalam banyak perkelahian yang keren. Sisanya udah gue lupa, cos nonton ini waktu jaman kuliah dulu.
In short, Volcano High adalah film action-comedy with glitsy special effects yang mengambil setting di sebuah sekolah dimana murid dan gurunya punya kekuatan super dan lebih doyan brantem daripada belajar. Untuk time frame nya gue ngga ngerti ada di jaman mana, entah masa lalu or masa depan, tapi yang jelas pakaiannya masih hitam-hitam long sleeve (for boys) ala siswa-siswa jepang yang ada di komik.
This is my most memorable asian flick with two-thumbs-up rating for almost all categories: camera work, slapstick comedy, ngarep girls, and fighting scene. Cuman sedikit lemah ada di storyline dan endingnya (which is pretty much seen in all asian movies), but ini pun gue ragu cos udah agak lupa-lupa juga.
Even Kungfu Hustle masih agak-agak boring and dull dibanding ini. Special effect nya seriously extra cool, ditambah lagi karena ada the ever popular permainan parody efek Matrix. Final fight nya is done extravagantly mad and beautiful at the same time.
Ngutip dari salah satu review web: “At 99 minutes, the film thuds along at a relentless pace, accompanied by a pounding Korean electro-metal score, and you’re not expected to catch your breath as you move from one action set-piece to the next. Tiring? Absolutely. Enjoyable? Ultimately.”
Sebagai salah satu figur karismatik dan berpengaruh dalam dunia Don Juan, Peter Valentino aka True-Gossiper (TG) lebih dari sekedar gumpalan misteri dan bad boy attitude-nya. Ia bermula dari bocah ingusan yang ingin jadi musisi terkenal namun kandas karena band impian yang tak kunjung terbentuk. Sekian tahun malang melintang dengan berbagai hobi lainnya yang serba absurd, Peter kemudian berhasil lahir baru sebagai ikon tersendiri yang sulit dikategorikan, apalagi dicari kompetitornya.
Setelah nungguin semalaman di Vertigo, Outcasts Magz berhasil memaksa dia untuk ngobrolin banyak rahasia yang belum pernah tersentuh sebelumnya. Semua spesial untuk pembaca dan fans global lainnya.
Kenapa memilih kerja freelance and independen?
Kerja kantoran sucks big time, man! Kita kehilangan banyak energi dan waktu hanya untuk berusaha makan dan minum. Sementara kerja begitu memang memastikan elo bisa bertahan hidup, tapi elo kehilangan kehidupan itu sendiri. I’m not trying to be sok dalem and filosofis, but for me kerja itu seharusnya buat support life, bukannya robbing life. Makanya gue memilih untuk bekerja secara independen dan ngebangun bisnis sendiri.
Idealisme elo apa sih?
To elevate people, man, ga tau deh apaan tuh bahasa Indo enaknya. Pokoknya gue ngerasa punya talent banget di seputar dunia consulting gitu. Tiap ketemu temen baru, pasti ngga bakalan jauh-jauh dari bidang itu. Kadang cape juga sih, pernah mikir, “Muka gue dah kayak diary. Orang bawaannya mo curhat aja..” Tapi most of the time I really enjoy it. Connecting with people itu bikin semangat banget, trus juga puas. Pernah megap-megap kelelep waktu baru blajar berenang? Nah gitu deh perasaannya, megap-megap tegang and hepi berusaha stay di atas permukaan kolam, setiap kali habis nyumbangin something ke hidup orang lain.
Read the complete story in PDF format. (right click and save target as)
Tempo hari gue udah nulis entry soal Xplor Unlimited Internet dari PowerKlik, skarang update-nya.
Gue udah pake nyaris sebulan dan sama sekali ngga ada peningkatan dari report gue tempo hari. Yah skarang udah jadi terbiasa sih, ngga berasa lelet-lelet amat, tapi tetep aja yang namanya upload tuh susahnya setengah mati.
Trus barusan aja dapet kabar baru. Kalo ngga dikasih tau ama temen yang ngecek web PowerKlik karena emang pengen apply, gue ngga bakalan tau ada banyak perubahan di sana, mulai dari sistem paket sampe cara pembayaran. Asli gue ngga ngerti mereka ngomong apaan. Nulis press release acak kadut gitu, ngga ada titik koma.
Totally geblek tuh perusahaan!
Jadi buat yang tertarik untuk apply Xplor Unlimited Internet ini, LUPAIN AJA DEH!
Tapi yang udah terlanjur pake, nih ada beberapa komentar kocak dari sesama pelanggan yang gue ambil dari forum Sijiwae. Lumayan lah buat ngerasa senasib sepenanggungan.
Seorang dari purworejo datang kesaya mengembalikan kit Power Kliknya (karena dia beli lewat saya). Dengan muka kecut dia tanya, “Ada yang lebih lambat dari PowerKlik ngga?” Saya jawab, “Yang gratis dan cepat banyak, tapi yang mahal dan lambat hanya PowerKlik!” source
ADA JUGA BANDWITH YANG DINAIKIN (BARU BOLEH-BOLEH AJA HARGA NAIK)
EH INI HARGA NYA YANG DINAIKIN, BANDWITHNYA TURUN!!!
TEORI EKONOMI DARI MANA TUUUUUUUHHH??? PAK PITOYO???? WEKEKEKE
OM BUYASA…NO BRAIN INSIDE YA……??????
WAKAKAKAKAKAKAKAKA!!! source
Nda aku ra masalah nek kowe mbelani buyasa. Mungkin kowe yo sedulure PITOYO opo DANDAN. Tapi nek kowe iso mbuktikke omonganmu koneksi minimal nganti 33,5kbps - 52,6kbps KETHOK DRIJIKU SU!!! Yo ketemu neng areamu buktikke omonganmu nek kowe sing selak tak KUETHOK GULUMU pie??? source
Yang terakhir ini I ABSOLUTELY HAVE NO IDEA dia ngomong apaan, tapi keliatannya seru and kocak. Hahahaha!
PowerKlik, PT. Buyasa, Xplor XL, mati aja deh kalian…
Gue lupa apa yang terjadi sebelumnya, pokoknya yang masih bisa keinget tuh gue lagi ada di sebuah barbeque night party. Lokasi bukan di Indo, cos panoramanya berasa lake side view lengkap dengan hills, dan itu semua terletak di backyard sebuah rumah gede ala mansion.
We were having a great party. Termasuk gue, kira-kira ada sepuluh orang, masing-masing berpasangan, ngobrol and main games. Kayaknya gue ngga tau siapa orang-orang lain itu.
Entah brapa lama kemudian, gue ngeliat ada gerakan cahaya di langit dan mendadak keinget kalo di pagi harinya gue baca di koran tentang sebuah hujan meteor yang akan melintas di langit malam hari.
In real life, gue belon pernah ngeliat meteor tuh kayak gimana, tapi yang jelas di mimpi itu keliatan keren banget! Ribuan serpihan cahaya-cahaya kecil melesat dari kiri ke kanan, tapi karena jarak jauh banget, semuanya keliatan bergerak pelan in slow motion. Absolutely stunning.
Gue langsung ngasih tau partner gue yang kemudian ngasih tau orang-orang lain. Kita semua brenti main and makan, ngeliatin fenomena alam yang jarang-jarang bisa keliatan dengan mata telanjang.
Setelah sekitar lima menit, tiba-tiba gue ngeliat gerakan obyek cahaya lainnya dari lapisan belakang hujan meteor itu. Jadi anggap aja hujan meteor itu punya sejumlah layer, mis. 1 - 5. Nah gerakan cahaya yang baru itu pertama kali muncul di layer 6, kemudian perlahan-lahan bergerak maju menembus ke depan, ke layer 5, 4, dst.
All this said, kayaknya cuman gue yang ngeliat cahaya itu, cos setelah lima menit awal, pasangan-pasangan lain udah kembali sibuk dengan mainan dan games mereka. Cuman gue yang penasaran ama obyek cahaya baru itu.
Awalnya waktu masih di layer paling belakang, gue cuman bisa ngeliat warna kilauan cahaya yang berbeda dibanding layer hujan meteor. Kalo gerakan meteoritnya berwarna putih agak kekuning-kuningan, obyek baru itu berwarna
biru dengan titik-titik merah. Kalo dibandingin, seolah-olah obyek itu nebeng dan nyamar kayak si hujan meteorit.
Tapi seiring waktu, obyek itu mulai bergeser ke layer depan dan bentuknya makin terlihat jelas. Kelebat cahaya biru yang gue lihat itu ternyata cuman ekor dari sang obyek misterius. Kalo elo ngegumpel tisu, disulut api dan dilempar dengan cepat, itu gambaran persis dari obyek tersebut. Bedanya si obyek tidak berwarna putih kayak tisu itu, tapi hitam kelam dengan bintik-bintil merah di permukaannya.
Ketika dia semakin menyerong muncul ke permukaan, menjadi layer nomor 1 dan hujan meteor itu sebagian tertutup olehnya, baru deh orang-orang pada merhatiin lagi. Bentuknya keren abis: gede, bulet, dan keliatan berat. Sekitar satu setengah kali besar bulan dilihat dari bumi.
Saat itu gue berpikir itu adalah komet, tapi gue juga inget pernah ngitung kalo di periode jenjang umur normal gue, tidak akan ada komet yang lewat. Jadi itu pasti meteorit yang besar. Asli keren banget bisa ngeliat pemandangan begitu.
We all berdecak kagum, udah kayak ngeliat pesta kembang api yang mewah karena di langit skarang jadi muncul banyak warna cahaya-cahaya baru. Kilatan putih kekuning-kuningan, cahaya ekor biru, bintik-bintik merah, dan api merah kekuning-kuningan.
Ah, wait!
Api merah!
Ya, itu warna yang baru muncul lagi. Kali ini berada di depan gumpalan bulat meteorit itu.
“This doesn’t look good…” pikir gue saat itu.
Span waktu antara bulatan itu ada di lapisan paling belakang sampai akhirnya berada di paling depan dan terlihat warna api merah kekuning-kuningan itu ngga sampe lima menit.
Dan gue juga baru nyadar kalo gumpalan itu terlihat semakin gede, terutama dibandingkan dengan hujan meteor di belakangnya yang justru mulai memudar dan semakin mengecil kilatan cahayanya.
Meteorit besar itu jelas sedang mengarah ke bumi.
Dan api merah itu pasti akibat gesekan dengan atmosfir bumi!
Which means dia sudah berada ratusan ribu kilometer di atas kita!
OGIMOD.
Mendadak gue ngerasa semuanya berjalan slow motion.
Dan suasana begitu hening.
Gue ngelirik ke arah pasangan-pasangan di sekitar gue, mereka semua terdiam dengan wajah yang kosong, seperti tidak tahu harus berharap apa.
Gue juga sempat ngeliat ke arah sejumlah daging ham yang udah melenting mateng di atas panggangan barbeque, tapi ketika gue menghirup nafas, gue ngga bisa nyium aroma daging sama sekali, kecuali hawa dingin yang terasa menusuk.
Ketika gue ngeliat lagi ke langit, ‘pesta kembang api’ itu terlihat semakin meriah. Gumpalan hitam kini mulai terlihat keperak-perakan dengan bintik merah di permukaannya, ekor biru dan sumbu merah kekuningan di bagian moncongnya.
Dia tidak langsung mengarah ke tempat gue, melainkan nyerong ke sebelah kanan, tapi udah ngga bisa dipungkiri dia sedang mulai masuk teritori angkasa bumi. Gerakan trayek proyektil sebentar terlihat bergeser-geser beberapa derajat, dan kadang berputar, seolah-olah terbentur banyak kendala di selimut atmosfir bumi,
Pemandangan mencekam. Gue juga ngga tau kudu berbuat apa. Yang jelas di kepala gue berulang-ulang muncul ini, “Geez, it’s really happening! Just like in the movies! But how? Why? This is supposed to happen only in movies! This is supposed to be science fiction!”
Trayek proyektil gumpalan itu berubah lagi sampai 180 derajat, hingga kini bergerak ke arah kiri. Gue langsung melihat ke arah kiri dan membayangkan negara apa yang ada di sana. “Jepang? Filipin? Korea? Jadi cewek-cewek kawaii Korea itu akan musnah duluan? Tidak mungkin!” otak gue berputar keras.
Trus yang kepikiran lagi, “Apakah efeknya bakalan sampe ke sini?” Gue ngga tau lokasi geografis gue dimana, tapi ketika ngeliat gumpalan itu sudah memasuki wilayah angkasa dan mulai terlihat skala besarnya, gue langsung ngerasa ngga peduli ada di mana, pasti bakalan kena efeknya.
Gue cuman meluk erat my partner there, just like what everybody was doing, sambil ngomong, “This is it. I hope we can survive.”
Satu menit kemudian, gue bisa ngeliat dengan mata kepala sendiri, gumpalan solid itu menghantam permukaan bumi ratusan ribu kilometer di sebelah kiri kami, tertutup oleh sebuah bukit kecil.
BUMMMMMMMMM!
Tanah tempat kita berdiri terasa berdentum keras, seolah meraung ketika sang batu alien mengoyak-ngoyak bumi. Cuman satu suara dentuman, tapi bikin udara jadi sesak. Gue masih bisa ngeliat ujung dari permukaan bundar meteorit itu yang sudah mendarat, berikut cahaya-cahaya api yang berpendaran di sekelilingnya.
Now I know this sounds crazy, tapi gue ngedenger sayup-sayup soundtrack Ave Maria menyelimuti sekitar seiring tekanan udara yang bergelung-gelung mengirim bom hentakan ke arah kami.
We were all hugging each other very tight, but I knew no amount of power hugging can do any good now.
Dalam hitungan detik, tekanan udara yang besar dan gelombang kejut di darat menyapu habis tanah yang kami pijak. Serpihan-serpihan tanah terlihat naik melayang di udara, bersamaan dengan daging ham dan pangganan seberat 5 kilo itu. Tubuh kami yang juga melambung seolah tanpa gravitasi, menari-nari tanpa daya ditangan dewi katastrophe.
Di milisecond terakhir sebelum gue kehilangan kesadaran, gue masih bisa ngeliat my partner, holding her tight sambil berbisik, “Mankind… will… survive…”
And it went dark.
Ave Maria , gratia plena
Maria, gratia plena , Maria, gratia plena
Ave, ave dominus , dominus tecum
Benedicta tu in mulieribus
Ventris tuae, Jesus
Ave Maria
Okay, I’m sooo desperate for internet connection now…
Udah dua kali ngirim nyari info untuk solusi koneksi internet ke belasan milis, and sejumlah orang udah sempet ngebales ngasih tau beberapa references, many-many thanks to their help, tapi sejauh ini either jangkauan network nya belum masuk ke daerah gue or mereka terus janji gombal-babi bakalan perlebar jaringan (which they never did).
Yang paling bikin spanning is that assholish Kabelvision.com. If you ugly shit Kabelfuckers staff and marketing guys are reading this, GOOD! Sekitar empat tahun yang lalu gue ngecek layanan kalian di daerah Kemanggisan-Slipi dan dijawab, “Belum ada, tapi sudah ada banyak permintaan di sana, kami akan segera memperlebar jaringan ke sana.” Bulan lalu gue telpon, jawabannya masih sama.
DAMN YOU, Kabelfuckers! As if kalian masih belum puas dengan semua uang monopoli jaringan and biaya koneksi yang super tinggi untuk kecepatan yang extremely horrible!
Second, SolusiAkses.com . Gue telpon November 2005, katanya blum ada jaringan di daerah gue, tapi katanya bulan Januari 2006 bakalan udah ready to plug. Januari lewat, Februari gue telpon katanya mundur jadi ke akhir Februari atau awal Maret. Pertengahan Maret gue telpon, katanya diundur lagi ke Mei. Mei akhir gue telpon, katanya masih belum tau kapan dipasang BTS nya, waktu gue bilang, “Kemungkinan setelah Olimpiade 2020 ya, mbak?, jawabnya, “Iya.”
I’d say BULLSHIT, guys, BULLSHIT!!!!
Susah banget dapetin a decent and affordable 24/7 connection in this lame ugly collapsing-already country!
Gue lagi indesperate for net connection at home nih, dan sampe detik ini belon nemu yang cukup pas. Sebenernya gue butuh yang unlimited, tapi kabelvision terlalu mahal (approx 700rb). Ada alternatif lain seperti Internetkita.com dan Solusiakses.com, tapi keduanya belum buka jaringan di tempat gue, Slipi.
Yang paling deket untuk pertimbangan adalah Telkom Speedy, but gue banyak denger kasus ama mereka. Really need some strong advice whether it’s a good choice.
Yes, ain’t it sweet, uh? Di tengah-tengah orang lagi pada sibuk ama ribuan kutipan romantis, coklat, boneka teddy bear dan bunga mawar, it would be wonderful to see someone, or better a couple!, using my tshirt design above.
I hate Valentine’s Day. It’s a fad. A globalized whoring time where we are supposed to spoil our beloved ones with dramatized manner. Orang bilang VD itu kesempatan buat ngerayain cinta, but apa enaknya sih ngerayain dengan cara yang sama? Love should be special, tapi apanya yang spesial kalo ternyata di seluruh dunia orang lagi bergombal-gombal ria juga? Doh!
Love doesn’t need any special day, kalaupun mau ada, ya mungkin jauh lebih baik itu adalah hari waktu jadian or married dulu. Hari itu jauh lebih berkenang dan memang ada maknanya yang patut dirayakan. Bukannya intermezzo cinta selama 24 jam dimana situasi diatur supaya bermakna seperti yang diajarkan tradisi VD selama ini! That’s not a celebration. That’s a terrible disrespect to the wonderful meaning of love!
Moreover, VD playes another money game in forms of fancy suits, chocos, books on love and relationship, flowers, Kodak, heart balloons, romantic SMS, postcards, dinner, pair necklace/earring/wristband/etc, teddy bears, and any other things with kinky pinky lines. Semuanya harus berhubungan dengan merogoh dompet jauh lebih banyak daripada hari-hari biasanya. Gue sering denger ada orang bilang, “Valentine kan ga perlu ngasih hadiah mahal-mahal. Yang penting kan romantisme give and take nya..” Yeah right! *rolls eyes*
So what is VD? VD is the matrix, a systemic mind program built to simulate a perfect 24 human hours time for transfigurating the consequence of the grotesqueries imperfection of love inherent in every human actions throughout the whole 364 days. While this program functioned, it is fundamentally flawed, thus creating the otherwise contradictory systemic abuse to the free-will of every human couple. Those that refuse the VD program would constitute an escalating probability of feeling unworthiness and incompleteness in their love life. Ergo, failure to comply with this program will result in a cataclysmic decline of intimacy, coupled with the extermination of belongness, that will result in the extinction of the whole ongoing relationship.
Nah tuh, gue juga pusing ngarangnya. XD Pendeknya, Valentine’s Day adalah budaya semata yang lebih memperbudak manusia daripada memberikan kesenangan. Love is about you and your lover, so just keep it that simple. You don’t need to invite St. Valentine and other pinky gadjets to add to your party of love. Don’t celebrate Valentine’s Day. Just celebrate your love.
Btw, please email me before posting/using this tshirt design elsewhere.
It’s been two years, and there have been a lot of changes, especially tahun ini. Tapi tetep aja pandangan gue tentang Valentine ngga berubah.
Hari ini ngga ke kantor, cos my body is not delicious.. *demikian lelucon inggris murahan untuk ‘lagi ngga enak badan’*
Dua hari yang lalu standing on foot full almost seharian gara-gara event yang acak kadut. Nama acara sih keren, Forum ASEAN, tempatnya di Four Seasons Hotel, guests nya bule-bule Perancis, tapi koordinasi panitia ngga ada yang beres. Ditambah lagi gue mendadak ditunjuk jadi stage manager, yang bukan cuman ngga tau mesti ngapain aja, tapi juga baru pertama kali megang begituan.
Hahaha, seru deh, but untung everything ended well. Tapi yang ngga serunya ya skarang ini, dua hari kemudian, ankle and betis kejang gitu, susah jalan. Everything from hips down is in its swollen state. Ngga keren banget dah..
Sekarang lagi musim flu ya kayaknya, cuaca ngga beres. Dimana-mana ngeliat orang pilek gitu, untung ngga nular ke gue, tapi smenjak kmaren berasa aneh di hidung gitu and congested chest, ngga enak kalo narik napas. Ngga tau ini emang flu ato efek extreme body fatigue, or both.