June 8, 2007

The Secret

secretBelakangan makin rame aja orang yang recommend film ini, so akhirnya gue penasaran and donlot cos ngga bisa nemu di lapak DVD.

Dan ternyata cukup bagus …

… for a spiritual documentary movie.

Dengan presentasi dan spirit ala film What The Bleep (in fact ada beberapa same speaker featured in that movie), The Secret berbicara tentang the so-called ‘Law of Attraction’ yang simply says “When you visualize, you materialize,” and “You get what you focus on.”

But sayangnya, that kind of principle buat gue pribadi udah classic and cheesy banget so nontonnya ngantuk-bosen gitu, though mungkin juga karena gue nontonnya jam 6.30AM. It failed to convince me that whatever message its trying to pull is more than a self-help industry crap which had already been redundantly repeated and repackaged in our modern times.

Though my current line of profession(s) is also part such Feel-Good Inc., but I’m fully aware the bullsh*t nature of my own counsels and, more often than not, expose the weakspots / fallacy right after the service is given in order to nullify the blind-obedience effect. Where can I find that in movie? Nowhere. It’s not meant for creating a healthy balanced mind; it’s meant for conversion.

The movie shamelessly spots our crave for Easy-One-Size-Fits-All Answer yang bisa unlock the kind of life we always wanted, i.e. healthy, wealthy, being successful, etc. It offers a good banter, counter-response explanation, description, the whys and howtos of such ultimate revelation would be able to help our life, but it never addresses whether or not there is only one grand-ultimate answer in the first place.

All in all, it’s a mediocre movie with questionable science and embarrassingly huge amount of snake-oil charms.

December 15, 2006

God Delusion

god delusion Currently reading this one, a very strong and fistful book talking about the impossibility of God and attacking the use of religion. Sebenernya cuman iseng pengen ngeliat kata pengantarnya aja, cos buku ini mendapat banyak rekomendasi dari kelompok-kelompok atheis dan ilmuan. Tapi ketika baca preface itu, jadi intrigued banget untuk ngelanjutin. Si Richard Dawkins beneran bisa nge-hook reader untuk tertantang baca. Especially ketika dia ngutip ucapan Robert M. Pirsig, ‘When one person suffers from a delusion, it is called insanity. When many people suffer from a delusion it is called Religion.’ BAM!

I’m not an atheist, but gue bisa relate banget sama argumen si Richard. Kalo ngikutin term yang dia buat di chapter dua, then I’m a De Facto Theist. These days religion jauh lebih menyusahkan daripada yang seharusnya. Susah banget untuk bisa ngeliat kalo setiap aturan kerohanian itu, dalam agama apapun, sebenarnya bermaksud untuk membuat kehidupan manusia jauh lebih baik, especially di Indonesia yang masih so Dark Ages. Udah gitu, keadaan masih diperparah lagi ama sejumlah aktor yang pengen menjadikan agama sebagai landasan negara. Mampus deh..

Sekarang ini di RCTI lagi ada sinetron bernuansa kristiani, cukup mengejutkan dan gue pikir baru pertama kali. Mungkin ini adalah salah satu dari serangkaian sepak terjang awal untuk ‘membalas’ semua tayangan islami yang selama ini membabi-buta di nyaris semua saluran TV swasta. Semangat agama untuk bersaing dan menjadi yang terpopuler, terbaik, dan terutama. Please deh, dimana lagi show tentang ilmu pengetahuan yang bermutu kayak jaman dulu, Contact dan Beyond 2000?

September 27, 2006

Keeping it (sur)Real

Filed under: Spiritual, Personal

Sebagai salah satu figur karismatik dan berpengaruh dalam dunia Don Juan, Peter Valentino aka True-Gossiper (TG) lebih dari sekedar gumpalan misteri dan bad boy attitude-nya. Ia bermula dari bocah ingusan yang ingin jadi musisi terkenal namun kandas karena band impian yang tak kunjung terbentuk. Sekian tahun malang melintang dengan berbagai hobi lainnya yang serba absurd, Peter kemudian berhasil lahir baru sebagai ikon tersendiri yang sulit dikategorikan, apalagi dicari kompetitornya.

Setelah nungguin semalaman di Vertigo, Outcasts Magz berhasil memaksa dia untuk ngobrolin banyak rahasia yang belum pernah tersentuh sebelumnya. Semua spesial untuk pembaca dan fans global lainnya.

Kenapa memilih kerja freelance and independen?
Kerja kantoran sucks big time, man! Kita kehilangan banyak energi dan waktu hanya untuk berusaha makan dan minum. Sementara kerja begitu memang memastikan elo bisa bertahan hidup, tapi elo kehilangan kehidupan itu sendiri. I’m not trying to be sok dalem and filosofis, but for me kerja itu seharusnya buat support life, bukannya robbing life. Makanya gue memilih untuk bekerja secara independen dan ngebangun bisnis sendiri.

Idealisme elo apa sih?
To elevate people, man, ga tau deh apaan tuh bahasa Indo enaknya. Pokoknya gue ngerasa punya talent banget di seputar dunia consulting gitu. Tiap ketemu temen baru, pasti ngga bakalan jauh-jauh dari bidang itu. Kadang cape juga sih, pernah mikir, “Muka gue dah kayak diary. Orang bawaannya mo curhat aja..” Tapi most of the time I really enjoy it. Connecting with people itu bikin semangat banget, trus juga puas. Pernah megap-megap kelelep waktu baru blajar berenang? Nah gitu deh perasaannya, megap-megap tegang and hepi berusaha stay di atas permukaan kolam, setiap kali habis nyumbangin something ke hidup orang lain.

Read the complete story in PDF format. (right click and save target as)

October 7, 2005

A shout..

First of all, I’d like to thank you guys yang udah take time bantuin isi survei singkat tempo hari. Kalo ada yang belon ikutan, ngga ada istilah terlambat, hit them here..

Okay, onto the subject, beberapa hari yang lalu temen ngasih info kalo di Indo ternyata udah berkembang komunitas Baha’i, sebuah religious group yang lahir tahun 1844 di Iran.

Gue dulu pernah baca salah satu buku yang preaching about it, Thief in The Night, waktu jaman SMP kalo ngga salah.

Jadi ketika ratusan ribu anak-anak ingusan dengan celana pendek birunya lagi sibuk berusaha nulis something cool lewat isi dan tuker-tukeran diary, gue asyik ngebacain tentang sebuah agama baru yang jauh lebih civilized daripada tiga pilar agama dunia yang usianya dah ratusan tahun itu, namely Islam, Christianity, dan Jew.

Agama gado-gado, kalo gue mau simpulin pendek. Pokoknya berasa asyik gitu, cos semua nabi-nabi, dewa-dewi, dan bermacam-macam tuhan yang ada di seluruh agama dunia itu digambarkan sangat bersahabat di sana. It’s all about peace, love, and brotherhood.

So utopian. So surreal.

Gue ngga promote Baha’i at all, cos gue juga punya banyak keberatan terhadap mereka. I’m just saying that we should be ashamed of them. Even sekte Rabolu dan Hercolubus-nya masih jauh lebih peaceful (tho not automatically makes sense) daripada agama-agama major.

Fellow moslems and christians, stop fucking yourself, stop fucking others!

*I have to stop here, else it would turn ugly*

August 9, 2005

Purpose Driven® Life

Filed under: Spiritual

Ini adalah review-slash-rant tentang Purpose Driven Life (PDL) yang menjamur di seluruh pelosok Kristiani dunia, termasuk Indonesia. A little compilation here and there, and what I have in my about the book and its hype.

PDLBerikut promo lines dari official web tentang buku tersebut: “The book is a blueprint for Christians living in the 21st century—a lifestyle based on God’s eternal purposes, not cultural values. Using over 1,200 scriptural quotes and references, it challenges the conventional definitions of worship, fellowship, discipleship, ministry, and evangelism. In the tradition of Oswald Chambers, Rick Warren offers distilled wisdom on the essence of what life is about.

Dr. Rick Warren adalah gembala Saddleback Church di Lake Forest, California, dengan 20,000 jemaat setiap minggunya. Ia juga pendiri dari Pastors.com, wadah cyber yang membantunya menyebarkan pengajaran kepada ribuan gereja di dunia. Saat ini tercatat 115,000 gembala yang berlangganan Rick Warren’s Ministry ToolBox. Tentang PDL, ia mengklaim bahwa ia “..more than a book, it is a guide to a 40-day spiritual journey that will enable you to discover the answer to life’s most important question: What on earth am I here for?” Diterbitkan pada tahun 2002, PDL segera menjadi best selling book selama dua tahun berturut-turut, kemudian bestseller nomor satu oleh New York Times dengan 16 juta kopi pada April 2004. (more…)

June 26, 2005

So katanya bumi dalam bahaya..

Baiklah, ternyata impian itu berhasil. Menurut tim Guinnes Books of Record, site ini tercatat sebagai blog paling populer di Indonesia hanya dalam jangka waktu 10 hari saja, dan mereka akan mengikutsertakan data tersebut dalam publikasi jurnal Guinness tahun 2006 nanti. Selain itu gue dikirim email pencalonan sebagai direktur Blog Departement di United Nation, yang dengan berat hati harus gue tolak karena jujur aja gue lebih suka hidup santai di sini mengurusi blog sendiri daripada mengatur perdamaian blog sedunia, terutama konflik blog di Timur Tengah yang tidak berkesudahan itu.

Kini gue siap dengan materi fantastis berikutnya yang akan menjadikan gue sebagai manusia yang paling dibenci oleh VM Rabolu dari alam baka sana, atau setidaknya oleh penerbit Abdi Tandur yang memproduksi buku-buku beliau di Indonesia. Thanks to tim promosi mereka yang berani memunculkan diri di tagboard gue. Siapa sih Rabolu dan Abdi Tandur? Ah, baca aja dulu..

Jadi alkisah tersebutlah VM Rabolu yang mendapatkan pengetahuan tentang sebuah planet besar bernama Hercolubus yang sedang mendekati bumi dan akan membawa bencana kehancuran paling mengerikan terhadap seluruh umat manusia, dan menuliskannya dalam buku Hercolubus. Okay, terdengar seperti salah satu film Hollywood, tapi rasanya kita perlu membuang sentimen tak beralasan tersebut. Mungkin kita perlu melihat sedikit background sang pencetus dulu kan? (more…)

June 15, 2005

Mau jadi extraordinary?

Filed under: Spiritual

Warning: a very christian entry, proceed with caution.

Ngutip dari unworthy_servant’s blog:

Kemarin Minggu, khotbahnya keren…… tentang extraordinary which is equal to X + ordinary. So extraordinary people are ordinary people who has an X factor. dan biasanya orang kayak gini nih, bikin kagum orang lain. Nah, kira2 apa sih yang bikin kagum Tuhan? Orang lain kagum terhadap kita bukan menjadi jaminan Tuhan kagum ama kita.

There are three X factors that can make God amazed on us:
First, precious thing….
Do you want to give your precious thing (your limited time, your limited money) to God ?
Second, sacrifice
Do you want to sacrifice something that is really important to you for the kingdom of God?
Third, Faith
How big is your faith to God?

I strongly disagree on the whole theme of trying to be extraordinary before God. We already are! Kita adalah puncak dari ciptaannya, cerminan dari kepribadiannya. Kita adalah mempelai wanitanya, for Bart’s sake! Apa lagi yang bisa kita kerjain untuk jadi lebih extraordinary dari itu?

Dan kalaupun kita memang masih belum extraordinary, ngga ada satupun yang this earthly mind and body bisa kerjain untuk menarik perhatian doi lebih besar lagi dari yang udah ada. Tuhan ngga bisa lebih kagum, lebih sayang, lebih cinta, lebih-lebih apapun lainnya karena doi udah all out buat kita. Doi bukan kayak kita yang suka nahan-nahan perasaan, nungguin timing untuk kasih full 100%. Bodoh sekali jika kita berpikir bisa membuat Tuhan lebih takjub melihat kita? Doh!

Hmmm, kok gue jadi rohani genee ya? Au ah, mungkin gara-gara kesel ngeliat makin banyak pengkhotbah yang bikin khotbah asal-asalan. Pengen gue kemplang satu-satu tuh orang. But gue bukannya marah ama servante kok. So, non, jangan salah nangkep ya. :)

Udah ah, main-main di forum lagi. Oh ya, you guys yang suka ama budaya dan media, gabungan di Forum Senandika ya.

March 26, 2005

You are not alone..

Filed under: Spiritual

You are not alone..
by Peter Valentino

Saya berbicara kepada kamu yang merinding melihat apa yang terjadi dengan gereja Tuhan sekarang ini karena semuanya terlihat seperti reality show belaka..

Saya berbicara kepada kamu yang seringkali menemukan diri terduduk bingung memandang kanan-kiri berjingkat dalam kehebohan ibadah yang dipaksakan..

Saya berbicara kepada kamu yang terpaku oleh rentetan kesaksian kesuksesan dari teman-teman gereja, sementara kamu sendiri jauh dari itu semua dan jadi merasa kurang beriman..

Saya berbicara kepada kamu yang selalu tidak nyaman di gereja karena setiap orang sepertinya memiliki prestasi hebat dan kamu tidak memiliki apa-apa dibandingkan mereka..

Saya berbicara kepada kamu yang merasa sering diabaikan oleh gereja hanya karena terlalu banyak bertanya dan memakai otak..

Saya berbicara kepada kamu yang kelelahan dituntut untuk pelayanan ini itu sebagai bukti pertumbuhan kedewasaan dan kecintaan kamu terhadap Tuhan..

Saya berbicara kepada kamu yang merasa dikhianati karena mereka menjadikan persahabatan dengan kamu sebagai sarana penginjilan, bukannya memang ingin bersahabat..

Saya berbicara kepada kamu yang merasa kecewa bahwa keakraban dan kehangatan yang kamu rasakan hanya sebatas hingga ada jiwa baru lainnya yang bertobat dengan luarbiasa..

Saya berbicara kepada kamu yang selalu diperlakukan sebagai orang sakit dan perlu dilayani hanya karena menolak setuju dengan beberapa poin dari pemimpin rohani kamu..

Saya berbicara kepada kamu yang sudah pegal membaca buku-buku rohani yang lebih banyak berbicara tentang siapa dan bagaimana mereka, bukannya siapa dan bagaimana kamu..

Saya berbicara kepada kamu yang terseret-seret dalam mengikuti motto, visi dan program yang senantiasa berubah tiap beberapa bulan hanya untuk hasil yang semu dan temporer..

Saya berbicara kepada kamu yang merasa nyaris seluruh kegiatan dan fokus gereja saat ini adalah untuk kepuasan masturbasi rohani..

Saya berbicara kepada kamu yang mampu melihat sebuah kebusukan yang terjadi di dalam gerejamu, namun tidak seorangpun sepertinya mau mendengarmu..

Saya berbicara kepada kamu yang bosan dengan tambalan rohani yang tidak pernah benar-benar menyembuhkan, malah menuntut kamu untuk terus datang dan memperbaharui tambalannya..

Saya berbicara kepada kamu yang kerap dibungkam ketika ingin membicarakan tentang kemungkinan kesalahan-kesalahan doktrinal..

Saya berbicara kepada kamu yang gerah selalu dicekoki bermacam nasihat rohani ketika kamu sedang ingin meluapkan gejolak emosi karena keadaan yang serba tidak adil..

Saya berbicara kepada kamu yang kehilangan iman justru karena berada di dalam gereja Tuhan..

Saya berbicara kepada kamu semua yang mengalami hal-hal di atas..

“Kamu tidak sendirian!”

Apa yang kamu rasakan itu memang benar. Apa yang kamu pikirkan itu memang beralasan. Ada banyak jamur kejanggalan bermekaran di sana-sini dalam bangunan komunitas iman tempat kita bertumbuh, dan tidak semua orang dapat melihat hal-hal tersebut. Kita seolah-olah berbisik pada diri sendiri, sama seperti si anak ajaib dalam Sixth Sense, “I see people everywhere. Dead people. And they don’t know they’re dead..”

Ini bukan renungan teologis tiga-poin –seperti yang dibagikan via mimbar gereja setiap minggunya— yang ingin menyatakan kesalahan kamu, mengoreksi kamu, ataupun memimpin kamu kepada kebenaran. Bukan. Bukan itu. Saya juga sudah merasa cukup dengan kilikan-kilikan seperti itu. Tidak lagi, tuanku, terima kasih.

Ini hanya sesobek celotehan dari seorang pengembara yang sudah berjalan sekian lamanya, menuliskan sejumlah catatan perjalanan di serpihan kain yang ditebar setiap persimpangan demi persimpangan, dengan harapan pengembara lainnya akan tahu bahwa ada beberapa rekan-rekan lainnya yang pernah melewati jalan tersebut..

Saat ini ada puluhan dan ratusan generasi muda kristiani di Indonesia, kamu dan saya, yang tidak lagi menemukan spiritualitas Kristus di dalam gereja lokal mereka. Semakin kita mencari di dalamnya, semakin kita tersandung dan kehilangan iman. Semakin kita mencoba untuk menyampaikan pesan kepada gereja, semakin banyak gelar kebangsawanan yang mereka berikan kepada kita: Kepahitan, TerikatDunia, AnakYangHilang, dan HilangKasihMulaMula.

Tidak perlu gentar. Tuhan sedang mengerjakan sesuatu yang besar melaluimu. Jangan biarkan dirimu dibayangi oleh perasaan bersalah dan segala gelar kebangsawanan yang dibebankan kepadamu. Dan ketika saya berbicara tentang ada sekumpulan besar orang-orang lainnya yang tersebar di berbagai penjuru, saya tidak hanya berbicara kosong. Teruslah berjalan, dan kamu akan menemukan mereka..

Ketika saya memulai pengembaraan ini, semuanya terasa begitu berat. Saya berjuang melawan tekanan orang lain, cemoohan gereja, dan juga ketakutan dari dalam diri saya sendiri. Saya menyesali mata saya yang sempat melihat pemandangan tandus di antara bangku-bangku, sound system, dan pelayanan gereja. Saya menggeliatkan rasa sakit tanpa ada yang peduli akan hal itu. Sendirian dan lemah.

Sampai akhirnya saya menyadari bahwa ini justru sebuah panggilan ketika menemukan ada banyak rekan-rekan lainnya yang mengalami hal serupa. Mereka memiliki berbagai background, paradigma dan approach yang berbeda-beda, namun mengalir dalam zen yang sama. Saya merasakan panggilan, bukan untuk kepemimpinan, melainkan untuk kebersamaan dalam mengarungi sungai iman ini. Tidak seorangpun tahu kami hendak mengarah kemana, termasuk saya sendiri, namun mata setiap kami senantiasa berjaga-jaga dan tertuju pada Tiang Api di atas sana.

Tiang Api yang menjaga hati kami. Membuatnya tetap menyala dengan hangat, bahkan ketika kami menyadari bahwa kami semakin melangkah jauh dari kebaktian dan persekutuan gerejawi yang dahulu biasa kami lakukan. Ini bukan perjalanan yang menyenangkan, ada banyak kejatuhan dan kebingungan, keputusasaan dan kegetiran, kelaparan dan keletihan. Tapi satu yang kami tahu, Tiang Api itu terus bersama kami, menjadi sahabat kami, dan kami aman berjalan bersamanya.

Ya, jika kamu membaca surat ini, kamu tahu kamu tidak sendirian.

Jika kamu tidak mengerti apa yang saya bicarakan, sudah pasti ini memang bukan untuk kamu. Kamu sudah berjalan terlalu jauh, so silakan berbalik arah dan kembali ke rumahmu yang nyaman itu, tapi mohon tinggalkan kertas ini di sini.

Akan ada orang lain yang memungutnya dan merasakan harapan yang baru dalam hatinya.

Tertanda,
Rekan seperjalananmu

*******
Peter Valentino adalah seorang skeptik, peselancar spiritual, pengamat budaya, musisi, pembaca pikiran, dan penggemar Quickly Bubbletea. Begitu ekstensif dalam dunia cyber, banyak orang menganggapnya hanya mitos dalam dunia nyata. Ia juga co-founder dari Outcasts Community, rumah bagi ratusan petualang Kristus yang tersebar di berbagai penjuru dunia. Untuk bergabung, kunjungi www.the-outcasts.com.

March 23, 2005

Behold, The Neo Gospel

Filed under: Spiritual

Behold, The Neo Gospel
by Peter Valentino

Jika dilihat dari usia, saya mungkin masih tergolong hijau dan kencur, tapi entah mengapa sepertinya dalam seperempat abad pertama dalam hidup ini saya sudah melihat nyaris semua atraksi dan akrobat sirkus rohani yang ada dalam kepercayaan yang saya pegang semenjak kecil, yakni Kekristenan..

Dan saya menyebutnya sirkus rohani bukan sebagai pujian.
Justru kebalikannya.

Berikut adalah 18 atraksi doktrin dan akrobatik iman yang saya temukan dan alami sendiri dalam komunitas Kristiani modern ini.

1. Alkitab penuh dengan janji-janji Tuhan. Yang perlu kita lakukan adalah setia mengklaimnya sesuai dengan situasi kita, maka iman akan bekerja sama dengan Firman tersebut untuk mengerjakan sesuatu yang besar. Ini adalah atraksi utama yang paling sering saya temui, dan hampir seluruh atraksi-atraksi berikut nya bersumber dari penjabaran poin ini. Menyenangkan sekali Bible sudah berubah jadi buku mantera dan Tuhan jadi jin botol.

2. Jangan mau ditipu oleh iblis, setiap sakit penyakit dan kemiskinan adalah kutuk dari neraka. Anak-anak Kristus wajib memiliki iman yang besar, karena bilur-bilur Nya pasti memulihkanmu kepada kesempurnaan ilahi. Betapa malangnya orang-orang percaya yang terbaring di rumah sakit, tidak saja mereka merasakan rasa sakit yang berkepanjangan, tapi mereka bukan anak Kristus dan berada dibawah kutuk.

3. Apapun pergumulan kita, Bapa dapat mengobatinya dengan satu atau dua tumpangan tangan hamba Nya. Jika perlu, kita dapat melakukan isi ulang tiap minggu. Saya berharap Tuhan tidak akan memotong masa promosi gratisan ini, sebab entah berapa besar uang yang harus saya habiskan bila harus isi ulang terus seperti ini sepanjang hidup..

4. Jika tidak setia dalam persembahan dan perpuluhan, kita sedang merampok Tuhan dan murka Nya akan selalu membayangi kehidupan finansial kita. Oh tidak, ternyata harus bayar towh.. Celaka.

5. Kita tidak perlu memusingkan interpretasi bahasa roh karena Bapa dapat mengerti nya dengan baik. Pergunakan semaksimal mungkin. Ya benar, lupakan saja apa ucapan Paulus, dia kuno sekali, tidak mengerti pergerakan Tuhan di jaman modern ini..

6. Bapa ingin anak-anak Nya menjadi garam dan terang dunia, itu sebabnya kita pasti akan selalu diberikan kesuksesan dan hidup berkelimpahan. Hmmm, sepertinya ada yang merobek alkitab saya karena saya tidak bisa menemukan satu pun rasul Kristus yang hidup jet set, businessman dan penuh glamor.

7. Sebuah nubuatan dapat tidak tergenapi, tapi jangan khawatir, itu bukannya sesat. Kita hanya perlu sedikit lebih rajin berdoa dan menunggu lebih sabar lagi. Ya, kita harus tunduk, setia dan sabar, itu adalah buah-buah roh yang jauh lebih penting daripada memilah-milah kebenaran dan kesesatan.

8. Jika beberapa figur bersaksi tentang malaikat yang mendatanginya tadi malam, membawanya bertemu Tuhan dsb, dan menceritakan hal-hal yang agak berbeda dari Bible namun indah dan menguatkan, kita harus menerimanya dengan penuh antusias atas pertimbangan status dan ketulusan mereka. Mary Baxter yang menulis 40 Hari Di Alam Maut rasanya sangat bertentangan dengan kesaksian-kesaksian Paulus, Yohanes, dan rasul lainnya di Alkitab. Ah, tapi kan dia tulus.. jangan curigaan ah, dosa.

9. Pornografi, gay dan lesbi, dan dosa-dosa seks lainnya jauh lebih berbahaya daripada berbohong dan mencuri. Saya tidak bisa menghitung berapa perbandingan antara buku-buku kristen bertopik seksualitas dibandingkan dengan gabungan seluruh buku kristen dengan topik-topik lainnya. Satu banding satu, mungkin?

10. Ingin diberkati secara maksimal dan berlipat kali ganda? Investasikanlah bibit-bibit yang besar ke Ministry _______. Semakin kamu memberi, semakin kamu menerima. Saya miskin, menurut poin #2, saya berada dalam kutuk. Sekarang saya tidak bisa memberi investasi, berarti saya semakin terkutuk dan tidak bisa menerima apa-apa? Mungkin saya perlu mempertimbangkan pindah agama, sepertinya Buddha jauh lebih ramah..

11. Anda merasakan stagnasi rohani? Bergabunglah dengan kelas / retret pembinaan iman ______ dimana Bapa akan memulihkanmu kepada kekuatan yang sediakala. Saya yakin bila mengikutinya pasti akan merasakan terobosan selama beberapa waktu, kemudian menurun lagi. Dan bila itu terjadi, saya berharap segera dibuka kelas pembinaan gelombang berikutnya agar bisa ikut lagi. Dan lagi. Dan lagi. Maranatha.

12. Seperti kata Mazmur, kita adalah allah-allah kecil! Orang percaya diberikan otoritas ilahi atas dunia roh dan iblis. Oh, luar biasa, saya bisa seperti saat Kristus vs orang kerasukan di Gerasa. Saya boleh ngobrol sedikit ama setan, bertanya siapa namanya, dan sejumlah keajaiban lainnya sambil berusaha menengking nya dengan penuh gaya.

13. Jika kamu rebah dalam roh, itu pasti terpaan kuasa Tuhan karena rasa yang damai dan menguatkan. Bagaimana mungkin kuasa setan dan hipnotis bila itu terjadi di gereja dan dilakukan oleh hamba Nya yang sangat diurapi? Saya harus mengurangi kecurigaan-kecurigaan seperti itu karena itu yang akan membuat saya tidak mengalami mujizat Tuhan.

14. Alkitab mencatat bahwa ada banyak pekerjaan ajaib lainnya yang Yesus lakukan sewaktu masih di bumi. Dan Roh yang sama masih terus bekerja dan membawa mujizat-mujizat baru sampai sekarang ini. Saya pribadi tidak mengerti bagaimana Holy laughter dan mengejang-ngejang dalam Roh dapat membantu memperlebar kerajaan Kristus di dunia ini.

15. Dengarkan kaset, video khotbah dan pengajaran berulang-ulang, ucapkan kata-kata hikmat yang diajarkan, bila kita ingin membuka tabir kebenaran Kristus dan kegerakan Nya. Benar sekali, Bible tidak akan cukup, harus ada tambahan. And talk about a huge christian bussiness, mungkin saya perlu menawarkan tulisan ini ke publisher, menjual nya dalam kaset dan beragam produk sampingan. Saya bisa kaya dan sukses, pasti ini yang Tuhan kehendaki..

16. Kita boleh menilai dan menghakimi dunia di luar gereja, namun jika ada sesuatu yang aneh dan salah dalam gereja, jangan sekali-kali mempertanyakannya atau murka Allah akan turun atas kita. Benar sekali, tidak mungkin ada kesesatan di dalam gereja. Kita tidak perlu pusing tentang hal-hal di dalam karena pasti Tuhan yang pegang semuanya.

17. Jika kita meninggalkan gereja dan pelayanannya, pengurapan Tuhan akan ditarik daripada kita. Ooowh, cuman pinjaman towh..

18. Selain itu, berhati-hatilah, karena Tuhan sangat perhitungan soal jarak. Kita dapat untuk seketika lamanya, jauh dari Tuhan. Ketika bertobat, kita akan kembali dekat dengan Nya. Dan tadinya saya berpikir Tuhan akan selalu beserta kita..

Poin-poin yang saya tulis adalah atraksi wajib di nyaris semua gereja Karismatik dan Pentakosta di Indonesia. Di sanalah saya menghabiskan masa-masa remaja dan awal usia 20an dahulu. Saya tidak tahu dengan kamu, tapi kini saya benar-benar merasa asing dengan hal itu semua. Semakin saya mencoba mengenal Kristus secara pribadi, semakin asing rasanya poin-poin di atas. Benarkah itu adalah isi dari Gospel? Benarkah itu ajaran-ajaran Kristus?

Atau itu semua pengajaran dari ’Kristus’ yang lain? Dengan demikian, Neo Gospel? Maximized Gospel? Gospel with extra cheese?

Saya tidak heran jika sering melihat dan mendengar isu kerohanian yang semakin aneh-aneh aja setiap harinya. Mulai dari keterikatan macem-macem, bahkan sampe ada yang namanya Roh Macet, Roh Game Komputer, dan Roh Gila Kerja, hingga kepahitan dan luka batin yang berkepanjangan. Wajar saja jemaat Kristus modern ini semakin banyak yang ’penyakitan’ dan lemah seperti itu.

Mereka disuguhi hidangan Injil yang lain!!!

Para pemimpin dan gembala mereka menyediakan makanan-makanan alternatif, modifikasi, dan bahkan beberapa sama sekali bukan Gospel! Jemaat memenuhi kelaparan rohani mereka dengan cemilan-cemilan rohani yang tidak memiliki lambang berbahasa arab! Semua hidangan yang mereka nikmati adalah kalengan, pre-processed food, yang entah dibuat dari ingredients apa saja. Malnutrisi!

Saya tidak memusuhi gereja-gereja yang melakukan 18 poin di atas, dan saya harap juga sebaliknya, mereka tidak memusuhi saya. Saya hanya berseru agar mereka bersedia membuka sedikit telinga dan mata untuk menilik apa yang mereka ajarkan selama ini. Itu bukan sesuatu yang memalukan untuk dilakukan. Justru sesuatu yang dilakukan untuk mencegah kemaluan dan penyesalan di masa mendatang.

Perhatikan juga saya berpindah dari metafor tentang sirkus di awal kepada makanan pada bagian akhir ini, dan itu tentu ada maksudnya dan saling berhubungan. Seluruh atraksi rohani yang gereja lakukan dengan poin-poin tersebut –layaknya sirkus tenda keliling yang meriah dengan gajah, badut bermain api, dan simpanse yang menari-nari— adalah rangkaian feeling-good theology. Faith-tainment, teologi yang menyenangkan, mudah ditelan, renyah dan membangkitkan air liur. Gospel yang instant, murah dan ringan, seperti kacang dan bakso.

Kacang tidak dibuat untuk menghilangkan rasa lapar. Bakso juga bukan makanan yang sehat untuk dikonsumsi untuk pertumbuhan biologis. Kita perlu makanan yang lebih nyata dan keras. Kita butuh Kristus dan Gospel yang sebenarnya. Sajian yang sudah menghilang dan cukup terkubur dari panggung gereja saat ini. Bisakah kita mengembalikan menu tersebut pada tempatnya? Bukan demi saya, tapi demi Kristus yang kamu layani dan jemaatnya yang kamu pertanggungjawabkan..

Bila saya mengingat diri saya beberapa tahun yang lalu ketika masih terlibat dengan delapanbelas atraksi di atas, dan merefleksi seandainya ada orang yang menghampiri saya dan memberitahukan apa baru saja kamu baca ini.. saya tidak yakin bisa menerimanya dengan kepala dingin. Saya akan merasa tertantang untuk membuktikan sebaliknya, menyangkali keberadaan atraksi-atraksi tersebut. Saya akan mengutip sejumlah kejadian yang mematahkan teguran yang disampaikan. Saya akan tertawa terkekeh-kekeh, menggelengkan kepala, sambil mengelus-elus dagu dan ujung hidung saya. Saya akan berpikir bahwa orang yang menyampaikan hal tersebut sebagai pribadi yang negatif, dangkal, generalisir, dan tukang kritik saja.

Ya, saya dulu akan bersikap seperti itu.
Sangat keras kepala.

Saya yakin kamu tidak seperti saya..

*******
Peter Valentino adalah seorang skeptik, peselancar spiritual, pengamat budaya, musisi, pembaca pikiran, dan penggemar Quickly Bubbletea. Begitu ekstensif dalam dunia cyber, banyak orang menganggapnya hanya mitos dalam dunia nyata. Ia juga co-founder dari Outcasts Community, rumah bagi ratusan petualang Kristus yang tersebar di berbagai penjuru dunia. Untuk bergabung, kunjungi www.the-outcasts.com.

February 22, 2005

Evangelism & Conversion

Filed under: General, Spiritual

Evangelism & Conversion
by Peter Valentino

Apakah evangelism sama dengan conversion? Saya yakin pasti umumnya orang akan menjawab tidak. Tapi pertanyaan saya yang lebih penting adalah, apakah pertobatan-kepada-kristus (conversion, maaf saya tidak bisa menemukan padanan indo yang lebih baik) harus selalu menjadi fokus dan finale dalam pemberitaan kabar-baik (evangelism)?

One note, saya pribadi tidak pernah, sekaligus tidak setuju, melakukan evangelism dalam pengertian keluar and menginjili strangers. Tapi bagi you guys out there yang pernah melakukannya, apakah tujuan you guys memang agar orang tersebut dapat menerima Kristus dan menjadi seorang kristiniani?

Saya sedikit tergelitik sendiri karena beberapa tahun yang lalu pernah melakukan sesuatu yang sepertinya evangelism, tapi kalo saya pikir-pikir ulang saat ini, itu tidak lebih dari sekedar aksi conversion. Pembantu rumah tangga di rumah saya yang udah tinggal sekitar satu tahun berencana untuk pulang kampung dan tidak kembali lagi. Saat itu saya berpikir beliau harus dibawa kepada Kristus, or at least diberikan kesempatan untuk memilih. Jadilah saya melakukannya, dan di malam terakhir itu dia mengucapkan doa keselamatan. “Praise God for this evangelism” pikir saya saat itu.

Tapi sekarang saya meragukan apa yang dilakukan dulu itu. Saya tidak merasa membagikan sebuah kabar ajaib ataupun personal conviction kepadanya. Ya saya bercerita tentang nasib manusia yang terjual pada dosa, tentang keterpisahan manusia dari Sumber nya, tentang kehidupan setelah kematian, tentang beberapa pengalaman pribadi juga. Tapi saya melakukan itu semua dengan maksud pada akhir sesi, saya bisa menagihnya dengan undangan pertobatan..

I was doing a strategic session, and I thought that’s exactly how evangelism’s supposed to be. Seluruh kesaksian dan omongan yang gue sampaikan di saat itu, walaupun tidak saya plan secara detil dan khusus, di package sedemikian rupa agar dapat menggugah pendengarnya pada satu titik, yakni menerima Kristus. I was trying my best to place an interest into someone’s heart. I even try to put some words into their mouth.

Bila bercermin akan kejadian itu, saya merasa rendah dan malu. That’s not evangelism, that’s conversion. Evangelism, menurut apa yang sekarang saya yakini, adalah pemberitaan kabar baik yang bisa membawa nama Kristus atau tidak menyebutkannya sama sekali. Pemberitaan kabar baik karena itu memang kabar yang sangat baik dan indah, tidak lebih, tidak kurang. I’m very much troubled that now I can’t remember anything amazing or moving at that time. With that one ‘evangelism’ act I’d done in the past, I now feel so obscene, so military, so feudal, so rapist. Memang benar saya dengan jujur dan sepenuh hati mengenalkan seseorang kepada the King of Love, tapi melalui cara yang totally rude, ignorant and unloving.

Sangat sangat memalukan. At the moment I’m writing this, I even feel disgusted.

Bertahun-tahun setelah pengalaman tersebut, saat ini saya berada pada titik yang sangat tidak nyaman setiap kali mendengar seseorang menyebut Amanat Agung dan Penginjilan. Keraguan tersebut semakin berlipat ganda setiap kali melihat gereja terjun kepada aksi-aksi sosial. Conversion pada umumnya sudah pasti menjadi agenda tersembunyi dalam kegiatan seperti itu. Tidak heran kegiatan sosial gereja selalu ditekan dan dicurigai oleh kelompok-kelompok kepercayaan lain. Menyedihkan sekali untuk kita akui bahwa kecurigaan mereka tersebut memang beralasan..

Sulit untuk mengetahui sejak kapan conversion menjadi gimmick utama dalam membagikan gospel. Evangelism adalah tentang kisah yang ajaib, layaknya dongeng negeri khayangan, penuh dengan imajinasi, emosi, dan juga sentuhan-sentuhan pengalaman pribadi. Ingat ketika Yesus bercerita tentang di rumah Bapa ada banyak tempat tinggal, atau tentang kerajaannya yang tidak ada di dunia ini, atau tentang air hidup yang tidak pernah habis-habisnya. Sense of wonder, pleasure, sensuous spiritual gratification. Kalaupun di dalamnya terdapat tawaran, ia adalah undangan untuk menikmati bersama seluruh keindahan tersebut, bukannya desakan hidup-atau-mati.

Awalnya saya menulis ini untuk sebuah diskusi, tapi entah kenapa jadi mengalir ke bentuk yang lain. Just my little rant piece in rethinking the age-old word, evangelism, which of course say nothing about me doing it, cos that would be another different story.

*******
Peter Valentino adalah seorang skeptik, peselancar spiritual, pengamat budaya, musisi, pembaca pikiran, dan penggemar Quickly Bubbletea. Begitu ekstensif dalam dunia cyber, banyak orang menganggapnya hanya mitos dalam dunia nyata. Ia juga co-founder dari Outcasts Community, rumah bagi ratusan petualang Kristus yang tersebar di berbagai penjuru dunia. Untuk bergabung, kunjungi www.the-outcasts.com.

November 14, 2004

Questioning Qhristians

Filed under: General, Spiritual

Questioning Qhristians
by Peter Valentino

Every now and then, saya mendengar komplain berikut ini dari rekan-rekan kristiani, “Kamu kebanyakan mikir,” “Trus mau nya gimana?” , ”Kasih solusi dong,” dan sebagainya ketika sedang mengajukan keberatan-keberatan tentang churchianity. Dan setiap kali ucapan yang serupa muncul, saya selalu merinding sendiri memikirkan bagaimana caranya menjawab, ”I dunno..” tanpa membuat mereka jadi tertawa terkekeh-kekeh, memandang rendah diskusi itu, dan mencibirnya sebagai kedegilan-yang-dipelihara.

Baru-baru ini saya membaca di buletin sebuah gereja lokal sebuah artikel berjudul Fighting False Belief. Harus saya akui, itu adalah tulisan yang bagus sekali. Ia berbicara tentang ”false belief yang mampu mengecoh kita, dan kita membiarkan itu terjadi,” dan penyebab-penyebabnya. Sebagai penutup, ia bahkan memberikan mutiara indah yang berbunyi, ”Kepercayaan semu atau palsu bukanlah kebenaran, dan sesungguhnya kita punya kekuatan untuk dapat mengubahnya.” Indah.

Namun menarik sekali bahwa ia tidak menuliskan bahwa sebelum dapat mengubah sesuatu, kita harus dapat mengekang kerah sesuatu itu, melemparnya ke ruang interogasi, dan duduk berjam-jam di sana mengajukan berondongan pertanyaan menyudutkan yang sebagian dapat dijawab memuaskan, sementara sebagian menganga lebar tanpa pernah menemukan jawabannya.

Pertanyaan adalah kekuatan, sesuatu yang tampaknya semakin memudar dari panggung gereja dan kerohanian kita. Bukan saja kita lebih menyenangi jawaban, kita juga sudah begitu terbiasa memakan pertanyaan-pertanyaan yang disuapkan, sehingga kita berpikir bahwa itu adalah pertanyaan-pertanyaan kita sendiri.

Seorang hamba Tuhan kemarin berbicara seperti ini, “Kita sering bertanya, ‘apakah penyembahan itu?’ ‘mengapa kita perlu menyembah Tuhan’ dan sebagainya,” dan semua jemaat mengangguk-angguk setuju. Saya tidak yakin semua jemaat yang mengangguk itu memang pernah berpikir seperti itu. Saya bahkan tidak yakin setengah dari mereka pernah terpikir akan hal itu.

Itu hanya pertanyaan yang diasumsikan, dan semua orang menerimanya seolah-olah hasil usaha sendiri. Apa akibatnya? Tidak terjadi apa-apa. Jika jemaat mendengar jawaban atas pertanyaan tersebut, maka itu hanya akan bertahan sebatas ingatan saja. Tidak ada sesuatupun yang bisa dihasilkan olehnya, karena jemaat tidak benar-benar sedang mencari hal tersebut.

Pertanyaan yang disuapkan bukanlah pertanyaan, melainkan sebuah kritisisme palsu. Kognisi cangkokan. Sedotan cantik warna-warni yang meliuk akrobatik untuk sekedar meminum segelas es teh manis.

Mengapa satu-satunya cara untuk bertanya adalah mengutip pertanyaan pilihan yang sudah diberikan oleh pemimpin rohani? Mengapa jemaat tidak dibiasakan untuk mengangkat tangan dengan pertanyaan sendiri? Apakah gereja sudah memusuhi sang Pertanyaan?

Inilah pertanyaan. Dari sebuah jawaban.

*******
Peter Valentino adalah seorang skeptik, peselancar spiritual, pengamat budaya, musisi, pembaca pikiran, dan penggemar Quickly Bubbletea. Begitu ekstensif dalam dunia cyber, banyak orang menganggapnya hanya mitos dalam dunia nyata. Ia juga co-founder dari Outcasts Community, rumah bagi ratusan petualang Kristus yang tersebar di berbagai penjuru dunia. Untuk bergabung, kunjungi www.the-outcasts.com.

June 24, 2004

Spiritual me

Filed under: General, Spiritual

I think religion sucks. It more than often leads people to some level of ignorance. Faith, as some religious people said, is needed to approach things beyond our natural logic and human senses. That is exactly where the problem lies.

People just got too busy down working on their faith, that hocus pocus of the undefined and unperceptible world, while leaving their heads unoccupied with relevant arguments for the spiritual events that take place in their heart and soul. Just because religion requires faith and faith seeks no proof, it doesn’t says that we should forget about reasoning at all.

To become the true believer of something, you somehow first got to become the true doubter of it and find the exact opposite paradigm which cancels your doubts. That’s not the basic formula, of course, but at least you need to find out the hard base for your own set of belief. But sadly in any religion, doubt is almost identical to sin, eventhough it is used positively to re-test and confirm the message of a certain faith issue.

Religion does not give any chance for the believer to examine objectively the provided truth and premises. Religion asks people to just accept the whatever truth its telling about, the hell with whether you understand it or not. Therefore it promotes blind obedience, which eventually leads to ignorance. This suits to Robert Ingersoll’s statement, ‘Our ignorance is God; what we know is science.’

A hot pot of melted atheistic, skeptic, philosophic, and also theistic beliefs. That’s me. Some people are just satisfied with the handed results. But for me, I don’t want to embrace such dead religion. I’m not a religion person. I’m a spiritual person. Learning how to think, not what to think.

February 26, 2004

Maaf

Filed under: Spiritual

    

Kayaknya gue bakalan semi-hiatus blogging for a while, soalnya lagi semangat banget di community yang gue and temen-temen bangun, Outcasts Comm. Officially it was just lauched 20 February 2004 kemaren (6 hari), tapi sampe titik gue ngetik ini, udah ada total lebih dari 1200 posting di sana. That’s 200 posts on average per day! Seru banget.

Outcasts Comm. A new christian community in town. It’s not like any typical christian community. Ya gue tau itu terdengar klise, semua web/media juga bakalan ngaku gitu, but let be assured, this is THE REAL THING. If you have passion for Christ, you would really like to join this wonderful family. Enough said, just check it out, okays? And don’t forget to spread the news elsewhere..

Gue ngga full-hiatus karena sebenernya bisa aja tiba-tiba back blogging again. Gue cuma jadi ga sempet blogging karena ada beberapa thread di Outcasts Comm yang bener-bener take my time banget and I really enjoy them. So untuk sementara ini, you can find me there, okays? See ya.

December 31, 2003

Churching nomo…

Filed under: Spiritual, Personal

I shared about me churching –my term for ‘going to church’ — no more to some best friends yesterday. It was our first reunion in the last two years, and well they didn’t seem to be quite easy taking on my explanation. You see, I was a very charismatic leader back in the highschool days, and just last nite I swear I could see the swollen ache in their faces and eyes as my next life pages following the graduation is unfolded. Poor them.

Tho I was not surprised to get such reaction (which is typically found on anyone), little I was ready for their being cold and unfriendly as soon as I spill the mystery out. It isn’t a mystery, in fact, since it’s already a widespread rumour that I’m no longer active in any church ministry. I always think of them as my best friends. Eventhough they might first felt uneasy to hear about it confirmed officially from my own mouth, I was expecting that they’ll be tolerable in just seconds or probably minutes. “They know I’m a man of facts, that I won’t do anything without proper reasons …” But I was wrong.

They felt sorry for me. They ALL, nine of them, cringed with I-pity-you-oh-my-dearly-lost-brother crooked sad smile. It went on like for years, with their surging eyes meeting mine, as if craving for stories of bitterness hidden somewhere in my deepest soul. I don’t know if they ever found it. Maybe they did. I dunno. One thing I know for sure is that I never grow such in my heart.

They felt sorry for me. They all. Interestingly, I felt sorry for them feeling sorry for me. I was about to explain them about what’s going on in this world today, what philosophical ground we’re living currently, how the culture has shifted from universalism to personalism, etc etc… but their crooked smile… their prideful nodding heads… their sense of spiritual maturity… ah, those things refrained me from a useless explanation effort.

“Yeah, I’m churching nomo… does it make Jesus loves me nomo too…” was my last resort for them.

September 2, 2003

Up up and away!

Filed under: General, Spiritual

Mood: daredevil
Listening: vv.mp3 (^^)
Powerups: Let the high praises of God be in my mouth, and a two-edged sword in my hand.

You are not born as losers. Those times when you feel so helpless, so conditioned to fail, so confused with unworthy options, you are actually standing in the very edge of your success. The closer people get to their destination, the more sensitive their soul will become. Enthusiasm levels up. Adrenaline boils. Expectation streams, as heavy as it can be. People say “You’re the man!” when watching you at work. But sadly, your other consciousness is awakened too. Doubt steps inside. Anxiety rises. Fatigue fades in. The more you try to cope and deny those feeling, the more you feel embraced by them all.

Never forget where you’re standing now: only centimeters away from the finish line! You just don’t have time to pause and do positive talk about yourself, refuting your pessimistic side. Instead, just say, “Hi negative-me. Talk to you later, okay?” and go start your engine again. Lady Victory is reaching for you ahead, just step forward and grab her love.

Hmmm, I’m talking to myself there. If you can relate, well that’s cool. In the middle of tight schedules and frictions here, I need more and more quiet times everyday. In addition, I also have some friends who never turns their back whenever the road is so slippery. Thanks, God. Thanks, God. Thanks, God.